Contents

Bab 1: Pertemuan di Ruang Briefing

Wulan duduk di kursi plastik ruang rapat kecil kantor, kakinya menyilang rapi di bawah meja. Rok pensil hitamnya naik sedikit di paha, memperlihatkan kulit putih mulus yang selalu dirawat dengan lotion mahal. Rambut hitam lurus sebahu jatuh rapi di bahunya. Usianya 32 tahun, tapi penampilannya masih seperti wanita yang baru memasuki tiga puluhan—cantik, proporsional, dengan payudara sedang yang selalu membuat blus kerjanya terlihat sedikit ketat di bagian dada.

Meita, sahabatnya yang cerewet, duduk di sebelahnya sambil terus berbicara tanpa henti. “Lan, tolong ya… kamu yang urus guest list dan jadi MC kecil-kecilan di resepsi. Aku percaya banget sama kamu. Dharma nanti yang handle keamanan sekaligus bantu kamu ngatur tamu yang bandel-bandel.”

Wulan tersenyum tipis, mengangguk. Sudah empat tahun menikah dengan Andi, suaminya yang semakin sibuk dengan proyek-proyek luar kota. Malam-malam Wulan sering sendirian di apartemen, hanya ditemani televisi dan pesan singkat dari suami yang selalu berakhir dengan “capek banget, besok ya sayang”.

Pintu ruang rapat terbuka. Masuklah seorang pria bertubuh tegap kekar, kulit sawo matang, seragam satpam senior yang rapi. Dharma. Usianya 43 tahun, tapi tubuhnya masih terjaga karena kerja fisik sehari-hari. Bahu lebar, lengan berotot, dan aura maskulin yang langsung terasa memenuhi ruangan kecil itu. Suaranya berat saat menyapa, “Selamat sore, Bu Meita. Maaf terlambat.”

Meita langsung berdiri, “Pak Dharma! Ini Wulan, sahabat aku sekaligus yang bakal jadi partner kamu di acara pernikahan nanti. Wulan, ini Pak Dharma, satpam senior kita yang paling dipercaya. Dia yang akan jadi kepala keamanan sekaligus bantu kamu di lapangan.”

Dharma menatap Wulan. Tatapannya tidak sekadar sopan. Ada sesuatu yang lebih dalam, seperti sedang menilai, mengukur. Mata pria itu turun sebentar ke leher Wulan yang terbuka karena dua kancing blus atasnya terbuka, lalu naik lagi ke wajahnya. “Bu Wulan,” sapanya dengan suara berat yang pelan. Ia mengulurkan tangan.

Wulan menyambut. Tangan Dharma besar, kasar, hangat. Sentuhan itu singkat, tapi Wulan merasakan sedikit getaran di ujung jarinya. “Pak Dharma,” balasnya pelan, mencoba tersenyum profesional.

Briefing berjalan hampir satu jam. Meita menjelaskan detail-detail pernikahan yang akan digelar di ballroom hotel bintang empat dua minggu lagi. Wulan mencatat di tabletnya, sesekali mengangkat wajah dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Dharma. Pria itu duduk bersandar, tangan besarnya bertaut di atas meja, tapi matanya sering kali tertuju ke arah Wulan. Bukan tatapan genit murahan. Tatapan yang tenang, penuh perhatian, dan entah kenapa membuat Wulan merasa… dilihat.

Setelah briefing selesai, Meita buru-buru pamit karena ada janji fitting baju pengantin. Ruangan tinggal Wulan dan Dharma yang masih membereskan catatan.

“Bu Wulan sering lembur?” tanya Dharma tiba-tiba saat Wulan hendak berdiri.

Wulan menggeleng. “Jarang. Suami saya juga sering luar kota, jadi biasanya langsung pulang.”

Dharma mengangguk pelan. “Saya lihat Bu Wulan tipe yang teliti. Pasangan yang bagus buat acara ini. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya saja.” Ia menyodorkan selembar kertas kecil dengan nomor ponselnya.

Wulan menerimanya. Jari mereka kembali bersentuhan. Kali ini lebih lama sedikit. Kulit kasar Dharma menggesek punggung tangan Wulan yang halus. Ada panas yang aneh merayap naik ke lengan Wulan.

“Terima kasih, Pak,” kata Wulan, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.

Dharma tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata, tapi membuat garis rahang tegasnya terlihat lebih kuat. “Sama-sama. Saya tunggu kabarnya.”

Malam itu, di apartemen, Wulan berbaring di samping Andi yang sudah mendengkur karena jet lag. Pikirannya melayang ke tatapan Dharma tadi siang. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusirnya. *Dia cuma satpam senior. Sudah punya anak remaja. Ini gila.* Tapi saat memejamkan mata, ia masih merasakan hangat telapak tangan kasar itu.

Dua hari kemudian, persiapan pernikahan semakin intens. Wulan dan Dharma sering bertemu di kantor untuk koordinasi. Setiap kali bertemu, Dharma selalu menyapa dengan suara berat yang pelan, “Pagi, Bu Wulan. Sudah makan?” atau “Jangan capek-capek, nanti saya yang bantu angkat barang-barangnya.”

Wulan mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Tubuh tegap Dharma saat berdiri di dekatnya membuatnya merasa kecil, terlindungi. Suaminya jarang sekali menawarkan bantuan semudah itu.

Pada briefing terakhir sebelum hari H, mereka berdua tinggal di ruang rapat hingga larut. Lampu neon kantor sudah banyak yang mati. Hanya tinggal mereka berdua dan aroma kopi hitam yang Dharma bawakan untuk Wulan.

“Anda baik-baik saja, Bu?” tanya Dharma saat melihat Wulan mengusap pelipis.

Wulan tersenyum lelah. “Capek sedikit. Suami saya lagi di Surabaya, jadi saya yang handle semuanya.”

Dharma berdiri, mendekat. Ia menuangkan air mineral ke gelas Wulan. Tubuhnya yang kekar berada sangat dekat. Aroma sabun mandi pria dan sedikit keringat kerja tercium samar. “Kalau capek, istirahat dulu. Saya bisa lanjut sendiri.”

Wulan mendongak. Wajah Dharma tepat di atasnya. Rahang tegas, bibir tebal, dan mata yang gelap menatapnya tanpa berkedip. Jantung Wulan berdegup lebih kencang. “Pak Dharma… kenapa baik sekali sama saya?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk lebih dekat, suaranya hampir berbisik, “Karena saya suka melihat Anda tersenyum. Jarang lihat senyum tulus di kantor ini.”

Wulan merasa pipinya panas. Ia buru-buru membuang muka, berdiri, dan membereskan barang. “Kita lanjut besok saja, Pak. Sudah malam.”

Saat Wulan berjalan ke pintu, Dharma memegang lengannya pelan—hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat Wulan berhenti. Sentuhan itu kuat, hangat, penuh kendali. “Hati-hati di jalan, Bu Wulan.”

Wulan hanya mengangguk tanpa menoleh. Sepanjang perjalanan pulang, ia meremas setir mobilnya lebih erat. Antara kedua pahanya terasa sedikit lembap, dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Wulan menyentuh dirinya sendiri di kamar mandi sambil membayangkan tangan kasar Dharma yang memegang lengannya tadi. Ia orgasme dengan cepat, sambil menggigit bibir agar tidak mendesah keras. Setelah itu, ia duduk di lantai kamar mandi, air shower masih mengguyur tubuhnya, dan bisik pelan, “Ini salah… ini sangat salah.”

Tapi rasa bersalah itu justru membuat denyut di antara selangkangannya semakin kuat.


Bab 2: Tatapan yang Tak Terucap

Hari pernikahan Meita tiba dengan cerahnya cuaca Jakarta yang jarang bersahabat. Ballroom hotel bintang empat penuh sesak tamu. Wulan berdiri di pintu masuk utama dengan gaun hitam sederhana tapi pas di tubuhnya. Gaun itu menempel di pinggul dan dada, memperlihatkan lekuk proporsionalnya tanpa terlalu terbuka. Rambutnya tergerai lurus, sedikit disisir ke samping. Ia menyambut tamu dengan senyum profesional, tapi kakinya sudah mulai pegal setelah tiga jam berdiri.

Dharma muncul di sisinya tepat saat kerumunan mulai ramai. Seragam satpamnya diganti kemeja hitam polos dan celana bahan gelap yang membuat tubuh tegapnya terlihat semakin berwibawa. “Bu Wulan,” sapanya pelan di belakang telinga Wulan. Suara berat itu membuat bulu kuduk Wulan meremang. “Saya di sini. Kalau ada tamu yang bandel, biar saya yang urus.”

Sepanjang acara, Dharma benar-benar mendekat. Setiap kali Wulan kesulitan mengatur antrean foto atau tamu yang mabuk mulai ribut, pria itu langsung muncul. Tangan besarnya sekali memegang pundak Wulan pelan saat membimbingnya menghindari kerumunan. Sentuhan itu singkat, tapi cukup lama untuk Wulan merasakan panas telapak tangan Dharma menembus kain gaun tipisnya.

“Minum dulu,” kata Dharma saat istirahat sebentar. Ia menyodorkan botol air mineral yang sudah dibuka sedikit. Jari mereka bersentuhan lagi. Kali ini Dharma sengaja menggesekkan ibu jarinya di punggung tangan Wulan sebelum melepaskan.

“Terima kasih, Pak,” jawab Wulan. Suaranya agak serak. Ia meneguk air itu sambil merasakan tatapan Dharma yang tak lepas dari wajahnya—dari bibirnya yang basah oleh air, turun ke leher, lalu ke dada yang naik-turun karena lelah.

Malam semakin larut. Dansa dimulai. Meita dan suaminya baru saja selesai potong kue. Wulan duduk di kursi pojok ruangan untuk istirahat sejenak. Sepatu hak tingginya dilepas diam-diam di bawah meja. Tiba-tiba Dharma duduk di sebelahnya. Jarak mereka sangat dekat. Paha pria itu hampir menyentuh paha Wulan.

“Anda cantik malam ini,” kata Dharma tanpa basa-basi. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. “Bukan cuma cantik. Ada sesuatu yang… beda.”

Wulan tertawa kecil, gugup. “Pak Dharma bisa saja. Saya sudah tua, sudah menikah.”

Dharma tidak tersenyum. Ia menatap Wulan lekat. “Tua? Anda baru 32. Dan menikah bukan berarti berhenti dilihat.” Matanya gelap. “Saya lihat suami Anda tidak datang malam ini.”

Wulan menggigit bibir bawah. “Lagi di luar kota. Kerja.”

“Hmm.” Dharma hanya bergumam. Tangan besarnya terulur, merapikan sehelai rambut Wulan yang jatuh ke pipi. Jari telunjuknya menyentuh pipi Wulan sekilas. Kulit kasar itu terasa seperti listrik. Wulan membeku, tapi tidak menjauh.

Sepanjang sisa malam, chemistry itu semakin terasa. Dharma selalu berada di dekat Wulan. Saat Wulan membungkuk mengambil tas, Dharma berdiri di belakangnya—begitu dekat sampai Wulan bisa merasakan panas tubuh pria itu. Aroma keringat maskulin bercampur parfum murah tapi khas Dharma membuat perut Wulan teraduk aneh.

Pukul dua pagi acara selesai. Wulan membantu membersihkan sedikit barang-barang di belakang panggung. Dharma ikut membantu. Ruangan kecil itu hanya diterangi lampu sorot cadangan. Mereka berdua saja.

“Capek ya?” tanya Dharma sambil mengangkat kotak berat seolah tak ada apa-apa.

Wulan mengangguk. “Lumayan. Tapi senang Meita bahagia.”

Dharma meletakkan kotak itu, lalu mendekat. Tubuh kekarnya menjulang di depan Wulan. “Anda pantas juga bahagia, Bu Wulan.”

Wulan mendongak. Jarak wajah mereka hanya satu jengkal. Napas Dharma yang hangat menyapu bibirnya. Dada Wulan naik turun cepat. Untuk sesaat, ia membayangkan bagaimana rasanya jika pria ini meraih pinggangnya dan menciumnya di sini, di ruangan sempit ini.

Tapi Wulan mundur selangkah. “Saya pulang dulu, Pak. Terima kasih banyak bantuannya hari ini.”

Dharma tersenyum tipis. Senyum yang penuh arti. “Sama-sama. Hati-hati di jalan.”

Malam itu, pesan pertama masuk ke ponsel Wulan saat ia baru sampai apartemen.

Dharma: Sudah sampai rumah, Bu Wulan? Hati-hati tadi di jalan gelap.

Wulan menatap layar ponsel lama. Jantungnya berdegup. Ia tahu seharusnya tidak membalas. Tapi jarinya bergerak sendiri.

Wulan: Sudah, Pak. Terima kasih lagi ya.

Sejak hari itu, pendekatan Dharma dimulai dengan pelan tapi intens.

Pagi di kantor, Dharma selalu menyapa dengan senyum kecil yang hanya Wulan pahami artinya. “Pagi, Bu Wulan. Kopi sudah saya siapkan di meja satpam. Panas.”

Wulan yang biasanya langsung ke lantai marketing, kini sering mampir sebentar. Hanya untuk mengambil kopi itu. Mereka mengobrol lima menit—tentang cuaca, pekerjaan, lalu sedikit tentang kehidupan pribadi.

“Anda jarang cerita tentang suami,” kata Dharma suatu pagi saat mereka berdiri di koridor sepi dekat tangga darurat.

Wulan menghela napas. “Dia sibuk. Saya juga sibuk. Sudah biasa.”

Dharma menatapnya lama. “Wanita seperti Anda tidak boleh terbiasa sendirian.”

Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk. Malam harinya, Andi menelepon hanya sebentar. “Sayang, aku pulang besok malam ya. Capek banget di sini.” Lalu sambungan ditutup.

Wulan duduk di sofa, merasa kosong. Ponsel bergetar lagi.

Dharma: Jangan lupa makan malam, Bu. Jaga kesehatan.

Wulan tersenyum sendiri. Rasa bersalah datang, tapi ia balas juga.

Seminggu berlalu. Pendekatan Dharma semakin berani. Ia sering membantu Wulan membawa berkas-berkas berat ke mobil. Sekali waktu, saat hujan deras, Dharma meminjamkan jaketnya karena Wulan lupa bawa payung. Jaket itu berbau tubuh pria itu—maskulin, hangat. Wulan membawanya pulang dan tidur dengan jaket itu di samping bantal.

Suatu sore di kantor yang mulai sepi, Wulan duduk di ruang istirahat karyawan. Dharma masuk, mengunci pintu pelan dari dalam. Bukan kunci rapat, tapi cukup untuk memberi privasi.

“Pak…” Wulan berdiri, gugup.

Dharma mendekat. Tubuh tegapnya menghalangi cahaya. “Saya cuma mau bilang… saya sering mikirin Anda, Bu Wulan. Setiap hari.”

Wulan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Dada Dharma hampir menyentuh dadanya. Napas Wulan tersengal. “Ini tidak boleh, Pak Dharma. Kita sama-sama sudah menikah.”

“Saya tahu,” jawab Dharma dengan suara berat yang tenang. Tangan kanannya terulur, menyentuh pinggang Wulan pelan. Bukan meremas, hanya menyentuh. Tapi panas telapak tangan itu menembus blus tipis Wulan. “Tapi saya juga tahu Anda butuh diperhatikan. Dan saya… ingin memberikan itu.”

Jari Dharma mengusap pinggang Wulan naik-turun pelan. Gerakan kecil, tapi penuh kendali. Wulan merasakan otot perutnya menegang. Antara kedua pahanya mulai terasa hangat dan lembap. Ia menutup mata, berusaha mengendalikan napas.

“Pak… tolong…” bisiknya, tapi suaranya tidak meyakinkan.

Dharma menunduk. Bibirnya hampir menyentuh telinga Wulan. “Kalau Anda suruh saya berhenti sekarang, saya akan berhenti.”

Wulan tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir, tubuhnya gemetar kecil. Dharma tersenyum tipis, lalu mundur selangkah. Memberi ruang.

“Pikirkan saja,” katanya sebelum keluar dari ruangan.

Malam itu, Wulan mandi lama. Tanganannya turun ke antara selangkangan, membayangkan tangan kasar Dharma yang tadi menyentuh pinggangnya. Ia orgasme sambil menahan desahan, air shower menutupi suaranya. Setelahnya, rasa bersalah datang menghantam. Tapi besok paginya, ia tetap membalas pesan Dharma dengan senyum.

Hubungan itu masih di batas—sentuhan tak sengaja, tatapan lama, pesan-pesan malam hari. Tapi bara itu sudah menyala. Dan Wulan tahu, api ini semakin sulit dipadamkan.


Bab 3: Pesan-Pesan yang Membara

Dua minggu setelah pernikahan Meita, rutinitas kantor kembali normal, tapi bagi Wulan, semuanya terasa berbeda. Setiap pagi saat melewati pos satpam, Dharma sudah menunggu dengan secangkir kopi hitam panas dan senyum kecil yang hanya mereka berdua pahami. Tak ada kata-kata mesra di depan orang lain. Hanya sapaan sopan, “Pagi, Bu Wulan,” yang disertai tatapan lama yang membuat lutut Wulan sedikit lemas.

Wulan mulai sering membuka aplikasi chat lebih awal. Pesan pertama biasanya datang dari Dharma sekitar pukul enam pagi.

Dharma: Pagi, Bu. Semalam tidur nyenyak? Jangan lupa sarapan.

Wulan tersenyum sendiri di meja riasnya, rambut hitamnya masih basah setelah keramas. Andi masih tidur di belakangnya, mendengkur pelan. Ia membalas cepat.

Wulan: Pagi, Pak. Baru bangun. Sarapan nanti di kantor saja.

Obrolan mereka semakin panjang. Mulai dari hal sepele—macet di jalan, cuaca panas, keluhan pekerjaan—lalu perlahan merayap ke hal yang lebih pribadi.

Suatu malam, Andi lagi-lagi pulang larut dan langsung mandi lalu tidur tanpa banyak bicara. Wulan duduk di balkon apartemen dengan segelas anggur murah. Ponsel bergetar.

Dharma: Lagi apa, Bu Wulan? Rumah sepi?

Wulan: Lagi di balkon. Suami tidur. Kamu?

Dharma: Baru pulang ronda malam. Anak-anak sudah tidur. Isteri lagi ke kampung nunggu saudara. Sendiri di kos.

Wulan menatap layar lama. Jarinya ragu-ragu sebelum mengetik.

Wulan: Pasti capek ya, Pak. Jaga kantor seharian, malam ronda lagi.

Dharma: Capek biasa. Tapi lebih capek kalau mikirin orang yang nggak bisa disentuh.

Wulan merasa pipinya panas. Ia menggigit bibir bawah, paha menyilang lebih erat. Antara selangkangannya terasa hangat. Ia tahu pesan itu ditujukan padanya.

Wulan: Pak Dharma... jangan begitu.

Dharma: Kenapa? Saya cuma jujur. Dari hari pertama briefing itu, saya sudah suka sama senyum Bu Wulan. Sekarang tiap hari pengen lihat lebih dekat.

Obrolan malam itu berlangsung sampai hampir pukul satu. Wulan tertawa kecil membaca lelucon Dharma yang agak nakal, lalu merona saat pria itu bilang ingin memeluknya saat ia sedang lelah. Rasa bersalah datang seperti ombak, tapi kenikmatan mendapat perhatian ini jauh lebih kuat.

Keesokan harinya di kantor, Wulan sengaja turun lebih awal ke lantai dasar. Dharma sedang berdiri di pojok koridor, memeriksa monitor CCTV. Saat melihat Wulan, pria itu langsung mendekat.

“Kopi sudah dingin,” kata Dharma sambil menyodorkan gelas. Tangan mereka bersentuhan lebih lama dari biasanya. Ibu jari Dharma mengusap pelan punggung tangan Wulan.

“Terima kasih,” bisik Wulan. Ia berdiri sangat dekat. Aroma tubuh Dharma—campuran keringat ringan dan sabun mandi—membuat kepalanya pusing ringan.

Mereka mengobrol pelan di balik tembok pembatas. Dharma bercerita tentang anak remajanya yang mulai bandel, Wulan menceritakan betapa sibuknya Andi sampai kadang lupa ulang tahun pernikahan mereka. Dharma mendengarkan dengan sungguh-sungguh, matanya tak lepas dari wajah Wulan.

“Bu Wulan pantas dapat yang lebih baik,” kata Dharma pelan. “Pantas dimanja, dipeluk erat, dan… disentuh dengan benar.”

Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan suara berat yang rendah. Wulan merasakan getaran langsung ke perut bawahnya. Putingnya mengeras di balik bra, terasa menggesek kain blus. Ia menunduk, malu.

“Pak… orang-orang bisa lihat.”

“Sekarang sepi,” jawab Dharma. Tangan besarnya terulur, menyentuh lengan Wulan pelan, lalu turun ke pinggang. Remasan ringan, penuh kendali. Panas telapak tangan itu menembus blus tipis. “Saya cuma ingin Bu Wulan tahu, ada orang yang memperhatikan.”

Wulan tidak menjauh. Ia malah sedikit mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Napasnya tersengal pelan. “Ini bahaya, Pak Dharma.”

“Saya suka bahaya yang manis,” balas Dharma sambil tersenyum tipis. Jarinya mengusap pinggang Wulan naik-turun, lalu berhenti tepat di atas lekuk pinggul. Sentuhan itu membuat paha Wulan gemetar.

Sepanjang minggu itu, chatting mereka semakin intens. Dharma mulai mengirim foto dirinya setelah olahraga pagi—tubuh kekarnya basah keringat, otot lengan dan dada jelas terlihat di balik kaos ketat. Wulan balas dengan foto dirinya yang baru selesai berdandan, sedikit memperlihatkan belahan dada.

Dharma: Astaga, Bu. Mau saya gigit yang itu.

Wulan: Pak! Gila kamu.

Tapi Wulan tersenyum lebar sambil membaca. Malam harinya ia masturbasi lagi, kali ini membayangkan mulut Dharma yang tebal mengisap putingnya. Orgasmenya lebih kuat dari biasanya.

Meita, yang tak tahu apa-apa, suatu hari bertanya di ruang pantry, “Lan, kamu kelihatan glowing banget akhir-akhir ini. Ada apa? Andi tambah perhatian?”

Wulan tertawa gugup. “Biasa aja, Mit. Mungkin karena tidur lebih awal.”

Meita mengangkat alis curiga tapi tak menyelidik lebih jauh.

Suatu sore, kantor hampir sepi. Wulan sengaja tinggal lebih lama dengan alasan laporan marketing. Ia turun ke lantai satpam dengan alasan menitipkan dokumen. Dharma menariknya masuk ke ruang istirahat kecil yang jarang dipakai.

Di ruangan sempit itu, hanya ada sofa usang dan lampu temaram. Dharma berdiri di depan Wulan, tubuh tegapnya mendesak hingga Wulan mundur ke dinding.

“Sudah dua minggu saya tahan, Bu,” bisik Dharma. Napasnya hangat menyapu wajah Wulan. “Setiap malam mikirin kamu. Pengen peluk kamu erat.”

Tangan Dharma meraih pinggang Wulan, kali ini lebih kuat. Ia menarik tubuh Wulan hingga dada mereka menempel. Wulan bisa merasakan kejantanan Dharma yang setengah mengeras di balik celana seragam, menekan perut bawahnya.

“Pak… jangan di sini,” desah Wulan, tapi tangannya malah mencengkeram lengan Dharma yang berotot.

Dharma menunduk, hidungnya mengusap leher Wulan. Ia menghirup aroma kulit putih mulus itu dalam-dalam. “Kamu wangi banget. Aku ingin cium leher kamu sampai merah.”

Biburnya menyentuh kulit leher Wulan—bukan ciuman penuh, hanya gesekan panas dan basah. Wulan mendesah pelan, kepalanya mendongak memberi akses. Tangan Dharma naik, meremas pinggul Wulan dengan penuh nafsu, menariknya lebih dekat hingga kejantanan pria itu semakin menekan roknya.

Mereka hampir kehilangan kendali ketika suara langkah kaki terdengar dari koridor. Dharma cepat mundur, napasnya tersengal. Wulan merapikan blusnya dengan tangan gemetar, pipinya merah padam.

“Pulanglah dulu,” kata Dharma dengan suara parau. “Besok kita lanjut obrolan ini.”

Wulan mengangguk. Sepanjang perjalanan pulang, ia merasakan celana dalamnya sudah basah sekali. Di apartemen, ia langsung mandi dan mencoba melupakan, tapi saat Andi mencoba bercinta malam itu, Wulan malah membayangkan Dharma. Ia orgasme sambil menggigit bantal, menyebut nama pria itu di dalam hati.

Rasa bersalah masih ada, tapi semakin tipis. Ketertarikan sudah berubah menjadi api kecil yang siap membesar kapan saja.


Bab 4: Hujan dan Pelukan di Motor

Dua minggu setelah pernikahan Meita, sahabatnya itu mengadakan after party kecil di sebuah resto rooftop di kawasan Kemang. Hanya untuk teman-teman dekat kantor dan keluarga. Musik pelan mengalun, lampu temaram, dan angin malam Jakarta yang sejuk. Wulan datang dengan dress selutut berwarna maroon yang menempel lembut di tubuhnya. Dada sedangnya terlihat lebih penuh karena potongan dress yang rendah di bagian leher, kulit putih mulusnya berkilau di bawah cahaya.

Dharma juga datang. Ia duduk di pojok dengan kemeja hitam lengan pendek yang memperlihatkan lengan kekarnya. Sepanjang malam, mata pria itu hampir tak lepas dari Wulan. Setiap kali Wulan tertawa mendengar cerita Meita, Dharma tersenyum tipis. Saat Wulan berdiri mengambil minum, Dharma mendekat dengan alasan membantu membawa gelas.

“Kamu cantik malam ini,” bisik Dharma di dekat telinganya saat tak ada orang di sekitar. “Dress ini bikin saya susah konsentrasi.”

Wulan merona. “Pak Dharma, di sini banyak orang.”

“Tapi saya cuma lihat kamu,” balas Dharma pelan sebelum kembali ke tempat duduknya.

Party berlangsung hingga pukul sebelas malam. Wulan mulai gelisah karena Andi mengirim pesan bahwa ia sudah tidur duluan. Saat semua orang mulai pulang, Wulan mencoba memesan taksi online. Tiga kali ditolak. Hujan mulai turun rintik-rintik.

Meita sudah pulang lebih awal bersama suaminya. Wulan berdiri di depan resto, memeluk tubuhnya sendiri karena angin malam yang dingin. Ponselnya terus menunjukkan “tidak ada driver tersedia”.

Tiba-tiba motor besar Dharma berhenti di depannya. Pria itu memakai jaket hitam tebal, helm di tangan. “Naik saja dengan saya, Bu Wulan. Hujan semakin deras. Susah cari taksi malam-malam begini.”

Wulan ragu. Jantungnya berdegup kencang. “Tapi… rumah saya jauh, Pak. Dan motor…”

“Saya antar sampai dekat saja. Aman,” kata Dharma tegas tapi lembut. Matanya menatap Wulan dengan penuh keyakinan. “Kamu percaya sama saya, kan?”

Akhirnya Wulan mengangguk. Ia naik ke motor, duduk menyamping dengan hati-hati. Tapi saat hujan semakin deras, Dharma menoleh. “Pegangan yang erat, Bu. Jalanan licin.”

Wulan melingkarkan tangannya di pinggang Dharma. Untuk pertama kalinya, ia merasakan otot perut pria itu yang keras di balik kemeja. Tubuh Dharma hangat, tegap, dan kokoh. Aroma keringat maskulin bercampur hujan membuat kepala Wulan pusing.

Motor melaju pelan menyusuri jalanan Jakarta yang basah. Hujan deras turun tiba-tiba, membasahi mereka berdua. Dress Wulan cepat basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya. Payudaranya yang sedang terlihat jelas bentuknya, putingnya mengeras karena dingin. Ia semakin merapat ke punggung Dharma, mencari kehangatan.

“Pak… hujan deras sekali,” kata Wulan, suaranya hampir hilang ditelan deru hujan.

Dharma hanya mengangguk. Tangan kirinya turun sebentar, meremas pelan paha Wulan yang basah. Bukan gerakan mesum, tapi menenangkan. “Saya antar kamu sampai rumah aman. Tenang saja.”

Sepanjang perjalanan, Wulan merasakan tubuh Dharma yang kuat. Setiap tikungan, otot punggung pria itu menegang, dan Wulan semakin erat memeluknya. Kejantanan Dharma yang setengah tegang terasa menekan pahanya karena posisi duduk yang rapat. Wulan pura-pura tidak sadar, tapi denyut di antara selangkangannya semakin kuat. Celana dalamnya basah bukan hanya karena hujan.

Mereka berhenti di sebuah gang kecil dekat kompleks apartemen Wulan. Hujan masih deras. Dharma mematikan mesin motor, tapi tak langsung meminta Wulan turun. Ia menoleh, menatap wajah Wulan yang basah.

“Kamu dingin,” kata Dharma. Tangan besarnya terulur, mengusap air hujan di pipi Wulan. Ibu jarinya menyentuh bibir bawah Wulan pelan. “Maaf ya, basah semua.”

Wulan menggeleng. “Justru… terima kasih, Pak. Kamu nggak usah repot-repot antar sampai sini. Bisa sakit nanti.”

Dharma tersenyum tipis. Air hujan mengalir di wajah sawo matangnya yang tegas. “Lihat kamu basah begini… saya malah nggak rela lepasin.”

Ia turun dari motor, lalu membantu Wulan turun. Tubuh mereka berdiri sangat dekat di bawah rintik hujan. Dharma membuka jaketnya yang basah dan memakaikannya ke pundak Wulan. Tangan pria itu merangkul pundaknya, menarik Wulan ke dalam pelukannya.

“Pak…” bisik Wulan, tapi ia tak menolak. Kepalanya bersandar di dada Dharma yang bidang. Ia mendengar degup jantung pria itu yang kuat dan cepat. Tangan Dharma mengusap punggungnya naik-turun, menghangatkan tubuh yang menggigil.

“Kamu wangi meski basah kuyup,” gumam Dharma di atas kepala Wulan. “Saya sudah lama nggak ngerasain pelukan kayak gini.”

Wulan mendongak. Wajah mereka sangat dekat. Bibir Dharma tebal dan basah oleh hujan. Tatapan pria itu gelap, penuh hasrat yang tertahan. Wulan merasakan kejantanan Dharma yang sudah mengeras sepenuhnya menekan perutnya. Tubuhnya bereaksi—vaginanya berdenyut, cairan hangat keluar membasahi celana dalamnya yang sudah basah.

Untuk sesaat, mereka hampir berciuman. Dharma menunduk perlahan, napasnya hangat menyapu bibir Wulan. Tapi Wulan menolehkan wajahnya ke samping.

“Saya… sudah sampai rumah, Pak. Terima kasih banyak,” katanya dengan suara gemetar.

Dharma mengangguk pelan, melepaskan pelukannya meski jelas tak rela. “Hati-hati naik ke atas. Ganti baju yang kering. Besok saya kirim obat kalau kamu masuk angin.”

Wulan berjalan menuju apartemen dengan kaki lemas. Dress-nya menempel ketat di tubuh, memperlihatkan setiap lekuk. Ia menoleh sekali lagi. Dharma masih berdiri di situ, menatapnya di bawah hujan deras. Tubuh tegap pria itu basah kuyup, tapi ia tak bergerak sebelum Wulan benar-benar masuk ke gedung.

Malam itu, setelah mandi air hangat, Wulan berbaring di samping Andi yang tertidur pulas. Tubuhnya masih terasa hangat karena pelukan Dharma. Ia menyentuh pinggangnya sendiri, membayangkan tangan kasar pria itu yang tadi mengusap punggungnya. Tangan Wulan turun ke antara pahanya, menemukan vaginanya yang licin dan panas.

Ia masturbasi pelan sambil mengingat pelukan tadi, aroma tubuh Dharma, dan tekanan kejantanan pria itu di perutnya. Orgasme datang dengan cepat dan kuat, membuatnya menggigit bantal agar tak mendesah keras.

Setelahnya, Wulan menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Rasa bersalah datang, tapi kali ini bercampur dengan sesuatu yang lebih kuat—keinginan.

Ia membuka ponsel.

Wulan: Sudah sampai rumah, Pak. Terima kasih sudah antar saya. Hati-hati pulang ya.

Balasan datang cepat.

Dharma: Iya, Bu. Saya juga sudah di kos. Masih basah mikirin kamu. Peluk kamu tadi… enak banget. Besok ketemu di kantor.

Wulan tersenyum kecil di kegelapan. Ia memeluk bantal, membayangkan dada bidang Dharma. Hujan di luar masih turun deras, tapi di dalam dada Wulan, badai yang lebih besar baru saja mulai.


Bab 5: Kunjungan yang Tak Direncanakan

Pagi berikutnya, kantor terasa sepi bagi Wulan. Ia datang lebih awal seperti biasa, mengenakan blus putih yang sedikit ketat di dada dan rok pensil hitam yang menonjolkan pinggulnya. Rambut hitam lurusnya tergerai rapi. Tapi saat melewati pos satpam, kursi Dharma kosong. Penggantinya hanya seorang satpam junior yang bilang, “Pak Dharma izin tidak masuk hari ini, Bu. Katanya kurang enak badan.”

Wulan merasa jantungnya mencelos. Hujan deras semalam. Pelukan mereka di gang gelap. Jaket basah kuyup. *Ini salahku*, pikirnya. Rasa bersalah langsung menyeruak, bercampur khawatir yang anehnya terasa hangat di dada.

Sepanjang pagi, Wulan sulit konsentrasi. Laporan marketing di layar komputernya hanya dibaca sekilas. Ia terus membuka ponsel, mengecek chat dengan Dharma. Tidak ada pesan baru sejak semalam. Pesan terakhir pria itu masih tertinggal: “Masih basah mikirin kamu.”

Meita mampir ke kubikelnya saat jam istirahat. “Lan, kamu kenapa? Muka pucet gitu. Lagi PMS?”

Wulan menggeleng sambil memaksakan senyum. “Nggak apa-apa. Cuma kurang tidur. Kemarin hujan deras pulangnya.”

“Oh iya, kamu diantar siapa? Aku lupa tanya,” tanya Meita polos.

“Naik taksi,” bohong Wulan cepat. “Udah, sana balik kerja. Aku mau lanjut laporan.”

Sepi lagi. Wulan menatap jam dinding. Sudah pukul sebelas siang. Pikirannya terus melayang ke Dharma—tubuh tegapnya yang basah kuyup, pelukan hangat di tengah hujan, tekanan kejantanan pria itu yang keras di perutnya. Vaginanya berdenyut pelan mengingat itu semua. Ia merasa bersalah, tapi justru semakin gelisah.

Wulan: Pak, kabarnya gimana? Katanya nggak masuk hari ini. Sakit?

Balasan tak kunjung datang hingga sore. Wulan semakin gelisah. Setelah rapat terakhir yang membosankan, ia memutuskan. Ia keluar kantor lebih awal dengan alasan sakit kepala. Di mobil, tangannya gemetar saat mengetik alamat kosan Dharma yang pernah disebutkan pria itu secara singkat dalam chat.

Rumah kontrakan sederhana di pinggir Jakarta Selatan, daerah yang agak kumuh tapi sepi. Wulan memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki menyusuri gang sempit. Jantungnya berdegup kencang. *Apa yang aku lakukan? Ini gila. Pulang saja.* Tapi kakinya terus melangkah.

Nomor kamar 12 di paling belakang. Pintu kayu sederhana, catnya sudah mengelupas. Wulan mengetuk pelan.

Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras.

“Siapa?” Suara berat Dharma terdengar parau dari dalam.

“Ini… Wulan, Pak.”

Hening sesaat. Lalu pintu terbuka. Dharma berdiri di ambang pintu hanya memakai kaos oblong hitam dan celana pendek olahraga. Rambutnya acak-acakan, wajah sawo matangnya agak pucat, tapi tubuh tegap kekarnya tetap terlihat kuat. Otot lengan dan dadanya jelas terlihat di balik kaos tipis.

“Bu Wulan?” Dharma tampak terkejut. Matanya melebar, lalu melunak. “Masuklah.”

Wulan melangkah masuk. Kamar kontrakan itu sederhana—kasur single di sudut, lemari kecil, meja plastik, dan kipas angin yang berputar pelan. Aroma maskulin Dharma memenuhi ruangan: campuran sabun, keringat ringan, dan sedikit obat flu.

“Anda… sakit karena hujan semalam ya?” tanya Wulan pelan, berdiri canggung di tengah kamar. “Saya khawatir. Nggak ada kabar.”

Dharma menutup pintu. Ia tersenyum tipis meski bibirnya kering. “Cuma demam sedikit. Badan pegal semua. Tapi sekarang… lihat kamu datang, rasanya sudah mendingan.”

Wulan merona. Ia meletakkan tasnya di meja dan mengeluarkan plastik kecil berisi obat dan bubur ayam hangat yang dibelinya di perjalanan. “Ini… buat Bapak. Maaf ya, saya ganggu istirahat.”

Dharma mendekat. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Wulan. “Kamu nggak ganggu. Malah… saya senang banget kamu datang.”

Ia menerima plastik itu, tapi matanya tak lepas dari wajah Wulan. Tatapannya turun ke blus putih yang sedikit basah keringat karena panas di luar, memperlihatkan garis bra dan lekuk payudara Wulan yang sedang.

“ Duduklah,” kata Dharma sambil menarik kursi plastik. Ia sendiri duduk di tepi kasur. “Cerita dong, gimana hari ini di kantor?”

Mereka mengobrol pelan. Wulan menceritakan hal-hal sepele, tapi suaranya gemetar. Dharma makan bubur ayam sambil sesekali batuk kecil. Setiap kali pria itu menatapnya, Wulan merasa tubuhnya panas. Ruangan kecil ini terasa semakin sempit. Aroma tubuh Dharma begitu kuat.

Setelah makan, Dharma merebahkan badannya di kasur. “Makasih ya, Bu. Kamu baik sekali.”

Wulan duduk di kursi dekat kasur. Tangan Dharma terulur, menyentuh lengan Wulan pelan. Jari kasarnya mengusap kulit putih mulus itu. “Dekat sini. Saya pengen lihat kamu lebih jelas.”

Wulan pindah ke tepi kasur. Dharma menarik tangannya hingga Wulan duduk lebih dekat. Tubuh pria itu terasa hangat karena demam. Tangan besarnya kini memegang pinggang Wulan pelan, meremas ringan.

“Semalam… pelukan di hujan itu,” gumam Dharma dengan suara berat yang parau. “Saya nggak bisa tidur mikirin itu. Badan kamu basah, dingin, tapi pas dipeluk… pas banget di pelukan saya.”

Wulan menunduk. Napasnya semakin cepat. “Pak… saya juga mikirin itu. Saya merasa bersalah. Tapi…”

“Tapi apa?” tanya Dharma. Ia bangun duduk, wajahnya sangat dekat dengan Wulan. Napasnya hangat menyapu pipi Wulan.

“Saya suka,” bisik Wulan hampir tak terdengar. “Saya suka saat Bapak peluk saya.”

Dharma tersenyum. Tangan kirinya naik, mengusap rambut Wulan, lalu turun ke leher. Ibu jarinya mengusap pelan kulit leher yang sensitif. Wulan menggigil. Denyut di vaginanya semakin kuat, celana dalamnya mulai lembap.

“Kamu cantik banget, Wulan,” kata Dharma, kali ini tanpa panggilan formal. “Kulit putih, tubuh enak dipeluk, bau wangi. Saya pengen peluk kamu lagi sekarang.”

Ia menarik Wulan ke dalam pelukannya. Tubuh Wulan menempel di dada Dharma yang bidang. Payudaranya tertekan di otot keras pria itu. Dharma memeluknya erat, satu tangan di punggung, tangan lain di pinggul. Wulan bisa merasakan kejantanan Dharma yang mulai mengeras menekan pahanya.

Mereka berpelukan lama di kasur sempit itu. Tangan Dharma mengusap punggung Wulan naik-turun, semakin berani. Sesekali meremas pinggulnya dengan penuh nafsu. Wulan mendesah pelan di dada pria itu, napasnya tersengal.

“Pak… saya harus pulang sebelum malam,” bisik Wulan, tapi tubuhnya tak bergerak menjauh.

“Sebentar saja,” jawab Dharma parau. “Biar saya hangat dulu sama kamu.”

Pelukan itu semakin erat. Wulan merasakan otot-otot Dharma menegang, napas pria itu semakin berat. Tangan Dharma turun ke paha Wulan, mengusap roknya yang naik sedikit. Kulit kasar pria itu menyentuh kulit paha dalam yang halus.

Wulan gemetar hebat. Rasa bersalah dan hasrat bercampur jadi satu, membuatnya pusing. Ia tahu ini salah. Tapi kehangatan tubuh Dharma, aroma maskulinnya, dan sentuhan dominan pria itu membuatnya tak ingin melepaskan diri.

“Besok… saya masuk lagi,” kata Dharma di telinga Wulan. “Tapi hari ini, kamu datang ke sini… artinya kamu juga mikirin saya, kan?”

Wulan hanya mengangguk pelan, wajahnya tersembunyi di leher Dharma. Ia menghirup aroma pria itu dalam-dalam.

Di kamar kontrakan kecil yang pengap itu, batas antara mereka semakin tipis. Wulan tahu, besok atau lusa, ia mungkin tak lagi bisa mundur.


Bab 6: Ciuman Pertama yang Terlarang

Keesokan harinya, Dharma sudah masuk kerja lagi meski masih terlihat sedikit pucat. Sepanjang hari di kantor, tatapan mereka sering bertemu. Dharma menyapa seperti biasa, tapi matanya mengatakan banyak hal. Saat Wulan melewati pos satpam saat jam makan siang, pria itu berbisik pelan, “Malam ini ke kos saya lagi, Bu. Saya tunggu.”

Wulan ragu seharian. Andi mengabari akan lembur sampai malam. Rumah kosong. Rasa bersalah masih menggerogoti, tapi ingatan pelukan hangat di kamar kontrakan kemarin membuat tubuhnya gelisah. Vaginanya sering berdenyut sendiri setiap teringat tangan kasar Dharma di pinggang dan paha.

Pukul setengah delapan malam, Wulan memarkir mobil agak jauh dari gang kosan. Ia mengenakan kaos longgar dan celana jeans ketat yang menonjolkan bokongnya yang bulat. Rambut hitamnya digerai, wangi shampoo masih menempel. Jantungnya berdegup kencang saat mengetuk pintu kamar nomor 12.

Dharma membuka pintu dengan cepat. Pria itu sudah mandi, rambutnya masih agak basah. Hanya memakai kaos hitam ketat dan celana pendek. Tubuh tegap kekarnya terlihat jelas—otot dada, lengan berurat, dan bahu lebar. Aroma sabun mandi pria langsung menyerbu indra Wulan.

“Masuk,” kata Dharma dengan suara berat. Ia mengunci pintu di belakang Wulan.

Ruangan kecil itu terasa lebih pengap malam ini. Kipas angin berputar pelan, lampu temaram kuning membuat suasana semakin intim. Wulan duduk di tepi kasur, tangannya saling meremas gugup.

“Saya bawa sup buatan saya tadi,” kata Wulan sambil menyodorkan wadah plastik. “Biar cepat sembuh benar.”

Dharma tersenyum. Ia meletakkan sup itu di meja, lalu duduk tepat di samping Wulan. Jarak mereka sangat dekat. Paha mereka bersentuhan.

“Kamu yang bikin saya cepat sembuh,” gumam Dharma. Tangan besarnya langsung memegang tangan Wulan, meremas pelan. “Kemarin pelukan kamu… obat paling manjur.”

Wulan menunduk. Pipinya panas. “Pak… kita nggak boleh begini. Saya sudah menikah. Bapak juga.”

Dharma tidak menjawab langsung. Ia menarik Wulan lebih dekat hingga pundak mereka menempel. Tangan kirinya memeluk pinggang Wulan, meremas lembut lekuk pinggul yang empuk. “Saya tahu. Tapi lihat kamu datang ke sini malam-malam… artinya kamu juga menginginkan ini.”

Napas Wulan tersengal. Tubuh Dharma begitu hangat, otot-ototnya keras di balik kaos. Ia bisa mencium aroma kulit pria itu yang maskulin. Tangan Dharma naik pelan, mengusap punggung Wulan, lalu turun lagi ke pinggul, meremas lebih berani.

“Kulit kamu halus banget,” bisik Dharma di telinga Wulan. Bibir tebalnya hampir menyentuh daun telinga. “Saya pengen sentuh lebih banyak. Pengen rasain tubuh kamu yang putih ini.”

Wulan menggigil. Putingnya mengeras di balik bra, terasa menggesek kain kaos. Antara kedua pahanya mulai lembap. “Pak Dharma… tolong jangan buat saya semakin salah.”

Dharma menarik Wulan hingga duduk di pangkuannya. Tubuh Wulan sekarang menghadap pria itu, kakinya mengangkang di atas paha kekar Dharma. Kejantanan pria itu sudah mengeras sepenuhnya, menekan tepat di celah selangkangan Wulan melalui celana jeans. Panas dan keras.

“Rasain ini,” kata Dharma parau sambil menekan pinggul Wulan ke bawah. “Ini karena kamu. Setiap hari mikirin kamu, kontol saya keras begini.”

Wulan mendesah pelan. Ia merasakan ukuran kejantanan Dharma yang besar dan tegang menekan vaginanya yang semakin basah. Tangan pria itu merayap naik ke dada Wulan, meremas payudara sedangnya dengan penuh nafsu. Jempol Dharma mengusap puting yang mengeras melalui kain.

“Ahh…” desah Wulan tanpa bisa ditahan. Kepalanya mendongak, leher putihnya terpampang.

Dharma tak tahan lagi. Ia meraih tengkuk Wulan dengan satu tangan, menariknya mendekat. Bibir tebal dan hangatnya menempel di bibir Wulan.

Ciuman pertama itu lembut dulu, hanya gesekan bibir. Lalu Dharma semakin dalam. Lidahnya menyusup masuk, menjilat lidah Wulan dengan rakus. Suara kecupan basah terdengar jelas di ruangan kecil itu. Wulan sempat kaku, tapi perlahan menyerah. Tangannya mencengkeram bahu Dharma, balas mencium dengan gairah yang mulai terbangun.

Dharma menciumnya dengan dominan. Giginya menggigit pelan bibir bawah Wulan, lalu menghisapnya. Lidahnya menari di dalam mulut Wulan, menjilat langit-langit, mengisap lidahnya. Tangan pria itu meremas payudara Wulan lebih kuat, meremas dan memilin putingnya bergantian.

Wulan mendesah di dalam ciuman. Tubuhnya bergerak pelan di pangkuan Dharma, menggesekkan vaginanya yang basah di batang kejantanan pria itu. Celana jeansnya sudah basah di bagian selangkangan.

Mereka berciuman lama, penuh nafsu. Napas tersengal, suara kecupan basah, dan erangan kecil Wulan memenuhi kamar. Dharma turun ke leher Wulan, mencium dan menghisap kulit putih itu hingga meninggalkan bekas merah samar.

“Wulan… kamu enak banget,” erang Dharma di lehernya. Tangan pria itu turun ke pantat Wulan, meremas kedua bokongnya yang kenyal dengan kuat, menariknya semakin rapat agar kejantanan pria itu semakin menekan vagina Wulan.

Wulan merasa dunianya berputar. Kenikmatan ini begitu kuat. Bibirnya bengkak karena ciuman ganas Dharma. Rasa bersalah datang seperti gelombang—*Ini suami orang. Aku istri orang*—tapi setiap kali Dharma meremas tubuhnya, setiap kali lidah pria itu menjilat lehernya, rasa bersalah itu tenggelam dalam lautan hasrat.

“Pak… cukup…” bisik Wulan lemah, tapi tangannya malah memeluk leher Dharma lebih erat.

Dharma menatap matanya lekat. Mata pria itu gelap penuh nafsu. “Kamu basah banget, Wulan. Saya bisa rasain melalui celana. Kamu juga menginginkan saya.”

Ia mencium Wulan lagi, kali ini lebih lembut tapi tetap dalam. Tangan Dharma menyusup ke dalam kaos Wulan, menyentuh kulit perut yang halus, lalu naik ke bra. Jari kasarnya meremas payudara telanjang, merasakan kekencangan puting yang mengeras.

Wulan menggeliat di pangkuannya. Desahannya semakin manja. Tubuhnya mulai menyerah pada sentuhan pria yang jauh lebih maskulin dan dominan daripada suaminya.

Mereka berpelukan dan berciuman hampir satu jam. Dharma tak memaksa lebih jauh malam itu, meski keinginannya sudah membara. Ia tahu Wulan masih rapuh.

Saat Wulan akhirnya pamit pulang pukul sepuluh malam, bibirnya bengkak, lehernya ada beberapa kiss mark tipis, dan celana dalamnya basah kuyup.

Di mobil, Wulan menatap dirinya di kaca spion. Pipinya merah, mata berkaca-kaca. “Maafkan aku, Andi…” bisiknya pelan.

Tapi saat ponsel bergetar dan pesan Dharma masuk—“Sampai rumah hati-hati. Bibir kamu masih terasa di bibir saya. Besok saya mau lagi.”—Wulan tersenyum kecil. Vaginanya berdenyut lagi.

Ia sudah mulai terlena. Dan ia tahu, ini baru permulaan.


Bab 7: Penyerahan yang Membara

Malam berikutnya, Wulan kembali ke kosan Dharma. Kali ini tanpa alasan sup atau obat. Ia datang dengan gaun musim panas tipis berwarna krem yang mudah dilepas, rambut hitamnya tergerai, dan parfum yang ia semprotkan lebih banyak dari biasanya. Andi lagi-lagi lembur di luar kota. Rumah kosong. Hati Wulan sudah tak tenang sejak ciuman kemarin.

Pintu kamar nomor 12 terbuka sebelum ia mengetuk. Dharma berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada. Tubuh kekarnya yang sawo matang berkilau karena keringat ringan di udara pengap. Otot dada dan perutnya terpahat jelas, garis V di pinggangnya menuju ke bawah celana pendek hitam yang sudah menonjol di bagian depan.

“Masuk,” kata Dharma dengan suara berat yang parau. Begitu pintu terkunci, ia langsung menarik Wulan ke dalam pelukannya.

Ciuman kali ini tak ada lagi keraguan. Dharma menciumnya rakus, lidahnya menyelusup dalam, menghisap lidah Wulan sambil meremas pinggulnya kuat-kuat. Wulan mendesah di dalam mulut pria itu, tangannya mencengkeram bahu bidang Dharma. Tubuh mereka menempel rapat. Kejantanan Dharma yang sudah keras menekan perut Wulan dengan panas.

“Aku nggak tahan lagi, Wulan,” erang Dharma di sela ciuman. “Mau kamu malam ini. Semua.”

Wulan hanya mengangguk lemah. Matanya sudah berkabut. Rasa bersalah masih ada, tapi hasrat sudah terlalu kuat. Dharma menarik gaun Wulan ke atas hingga lepas, melemparnya ke lantai. Bra hitam tipis menyusul. Payudara sedang Wulan yang putih mulus langsung terbebas, putingnya sudah mengeras seperti batu.

Dharma menunduk, mulutnya langsung menyambar puting kiri Wulan. Ia mengisap kuat, lidahnya menjilat dan memutar, giginya menggigit pelan. Tangan kanannya meremas payudara kanan, memilin putingnya kasar tapi nikmat.

“Ahh… Pak… ahh!” desah Wulan. Kepalanya mendongak, tangannya meremas rambut Dharma. Setiap isapan membuat vaginanya berkontraksi, cairan hangat sudah membasahi celana dalamnya.

Dharma mendorong Wulan ke kasur. Tubuh Wulan terbaring telentang, hanya menyisakan celana dalam hitam yang sudah basah di tengah. Dharma berdiri di ujung kasur, menatapnya seperti binatang lapar. Ia menurunkan celana pendeknya. Kontolnya melompat keluar—besar, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap oleh precum.

Wulan menelan ludah. Ukuran itu jauh lebih besar dari suaminya.

Dharma merangkak naik, mencium perut Wulan, lalu turun ke paha dalam. Ia menarik celana dalam Wulan ke bawah dengan gigi, lalu melemparnya. Vagina Wulan yang putih mulus, sudah licin dan mengkilap, terpampang di depannya. Bibir vagina yang tipis dan clit yang kecil mengeras.

“Basah banget,” gumam Dharma. Ia menunduk dan langsung menjilat dari bawah ke atas dengan lidah lebarnya.

“Uhhgg!” Wulan menggelinjang hebat. Tangan Dharma menekan paha Wulan agar tetap terbuka lebar. Lidahnya menjilat bibir vagina, menghisap cairan yang keluar, lalu memutar di clit dengan cepat. Sesekali ia menyusupkan lidah ke dalam lubang Wulan, menjilat dinding dalam yang panas dan basah.

Wulan meracau. Pinggulnya naik-turun mengikuti gerakan lidah Dharma. “Pak… enak… ahh… jangan di situ… ahh!”

Dharma mengisap clit Wulan kuat-kuat sambil memasukkan dua jari tebalnya ke dalam vagina. Jari-jarinya menggoyang cepat, menemukan titik G yang membuat Wulan hampir menjerit. Tubuh Wulan mengejang, orgasme pertama datang dengan cepat. Cairan squirting kecil menyembur ke mulut Dharma.

Wulan terengah-engah, tubuhnya gemetar. Tapi Dharma tak memberi waktu istirahat. Ia naik ke atas, memposisikan diri di antara paha Wulan yang terbuka lebar. Kepala kontolnya yang besar menggesek bibir vagina Wulan yang licin.

“Masuk ya, Wulan,” bisik Dharma sambil menatap matanya dalam. “Mau aku milikin kamu sekarang.”

Wulan mengangguk, tangannya mencengkeram lengan Dharma. “Pelan dulu, Pak… besar sekali…”

Dharma mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kontolnya masuk, meregangkan vagina Wulan yang sempit. Wulan mendesah panjang, campuran sakit dan nikmat. Dharma terus mendorong, senti demi senti, hingga setengah batangnya tenggelam.

“Ngghh… sempit banget… enak sekali,” erang Dharma. Otot lehernya menegang menahan hasrat untuk langsung menghunjam keras.

Ia mulai bergerak. Ritme pelan dulu, keluar-masuk, semakin dalam setiap dorongan. Bunyi basah “plok-plok” pelan terdengar saat kontol Dharma semakin basah oleh cairan Wulan. Payudara Wulan bergoyang-goyang mengikuti ritme.

“Ahh… ahh… Pak Dharma… dalam sekali…” desah Wulan. Kakinya melingkar di pinggang Dharma, tumitnya menekan bokong pria itu, meminta lebih dalam.

Dharma mulai mempercepat. Ia menindih tubuh Wulan sepenuhnya, dada bidangnya menekan payudara Wulan. Tangan kirinya meremas payudara, tangan kanannya memegang pinggul Wulan kuat. Dorongannya semakin kuat, kontol tebalnya menghunjam dalam-dalam, kepalanya menyentuh serviks Wulan setiap kali.

“Plok! Plok! Plok!” Suara benturan tubuh mereka semakin keras. Keringat Dharma menetes ke tubuh Wulan yang putih. Aroma seks memenuhi kamar kecil itu.

Wulan meracau tak karuan. Kenikmatan ini berbeda dari yang pernah ia rasakan. Setiap hunjaman membuatnya merasa penuh, diregangkan, dikuasai. Rasa bersalah masih muncul sesekali, tapi tenggelam setiap kali kontol Dharma menggesek titik sensitifnya.

Dharma tiba-tiba menarik keluar, membalik tubuh Wulan dengan mudah seperti boneka. Ia menarik pinggul Wulan ke atas hingga posisi doggy. Bokong bulat Wulan terangkat tinggi, vagina yang sudah merah dan basah terbuka lebar.

Tanpa aba-aba, Dharma menghunjam masuk dari belakang hingga pangkal. “Aaaahhh!” jerit Wulan. Posisi ini lebih dalam. Dharma memegang pinggul Wulan kuat, menariknya ke belakang setiap kali mendorong ke depan. Ritme cepat dan kasar. Tangan kanannya sesekali menepuk bokong Wulan pelan, membuat suara “plak” yang erotis.

“Kamu milik aku malam ini,” erang Dharma sambil terus mengenjot. “Kontol aku enak, Wulan?”

“Enak… enak banget, Pak… ahh… lebih keras…” Wulan sudah tak peduli lagi. Ia mendorong bokongnya ke belakang, menyambut setiap hunjaman.

Dharma meraih rambut Wulan, menariknya pelan hingga punggung Wulan melengkung. Tangan kirinya merayap ke depan, menggosok clit Wulan sambil terus memompa. Tubuh mereka basah keringat. Suara desahan, erangan, dan benturan daging memenuhi ruangan.

Wulan orgasme kedua dengan hebat. Vaginanya mengejang kuat menggenggam kontol Dharma. Ia menjerit nama pria itu sambil tubuhnya kejang-kejang.

Dharma tak tahan lagi. Ia mempercepat gerakan, menghunjam dalam-dalam beberapa kali terakhir. Dengan erangan berat, ia menyemburkan sperma panasnya jauh ke dalam rahim Wulan. Jet demi jet, tebal dan banyak, memenuhi vagina Wulan hingga meluber keluar saat kontolnya masih berdenyut di dalam.

Mereka ambruk bersama di kasur sempit. Dharma masih di atas Wulan, kontolnya setengah mengeras di dalam. Napas mereka tersengal. Keringat bercampur, aroma seks pekat.

Wulan menangis pelan. Bukan karena penyesalan murni, tapi karena campuran emosi yang meledak-ledak—kenikmatan yang belum pernah ia rasakan, rasa memiliki yang kuat dari Dharma, dan rasa bersalah yang masih menusuk dada.

Dharma mencium bahu Wulan lembut, tangannya mengusap pinggulnya penuh kasih sayang. “Kamu luar biasa,” bisiknya parau. “Jangan nangis. Malam ini kamu milik aku. Dan aku nggak akan lepasin kamu lagi.”

Wulan membalik tubuhnya, memeluk leher Dharma. Ia mencium pria itu dalam, lidah mereka saling menjilat lagi. Kontol Dharma yang masih di dalam vaginanya mulai mengeras kembali.

Malam itu baru saja dimulai.

Mereka bercinta lagi satu ronde sebelum subuh. Kali ini lebih lambat, penuh tatapan dan ciuman dalam. Wulan menunggangi Dharma, menggoyang pinggulnya dengan liar sambil pria itu meremas payudaranya dari bawah. Orgasme ketiganya datang bersamaan dengan sperma kedua Dharma yang kembali memenuhinya.

Saat fajar menyingsing, Wulan berbaring di pelukan Dharma, tubuh telanjang mereka saling menempel. Vaginanya masih berdenyut, penuh cairan pria itu. Pikirannya kosong, hanya ada rasa hangat dan kecanduan yang baru saja lahir.


Bab 8: Malam yang Tak Ingin Berakhir

Wulan terbangun dengan tubuh terasa berat dan lengket. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar kontrakan yang asing. Lampu temaram masih menyala kuning. Jam di ponsel menunjukkan pukul 10:17 malam. Tubuhnya telanjang, hanya ditutupi seprai tipis yang sudah kusut. Antara kedua pahanya terasa lengket, vagina masih berdenyut pelan dengan sisa-sisa sperma Dharma yang kental.

“Ya Tuhan…” bisik Wulan panik. Ia langsung duduk, payudaranya bergoyang. Rambut hitamnya acak-acakan menutupi sebagian wajah. “Sudah malam sekali…”

Dharma berbaring di sampingnya, bertelanjang dada, satu tangan menopang kepala. Tubuh kekarnya yang sawo matang terlihat santai, tapi matanya gelap menatap Wulan dengan penuh nafsu yang belum padam. Kontolnya setengah tegang tergeletak di paha, masih mengkilap sisa cairan mereka berdua.

“Tenang, Wulan,” kata Dharma dengan suara berat yang tenang. Tangan besarnya terulur, mengusap punggung telanjang Wulan pelan. “Kamu aman di sini.”

Wulan meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ada dua panggilan tak terjawab dari Andi dan beberapa pesan. Jantungnya berdegup kencang. Rasa bersalah menghantam seperti gelombang besar. *Apa yang aku lakukan? Aku baru saja tidur dengan pria lain. Di kosannya. Berjam-jam.*

“Aku harus pulang,” kata Wulan cepat. Ia hendak bangun, tapi Dharma menarik pinggangnya kembali ke kasur dengan mudah. Tubuh Wulan jatuh telentang lagi, payudaranya bergoyang.

“Jangan dulu,” bisik Dharma. Ia bergeser lebih dekat, tubuh tegapnya menindih separuh tubuh Wulan. Tangan kanannya meraba pinggul Wulan, naik ke pinggang, lalu meremas payudara sedang yang masih merah bekas hisapan. Jempolnya mengusap puting yang langsung mengeras.

“Pak… suamiku pasti cari aku,” kata Wulan dengan suara gemetar, tapi desahan kecil lolos dari bibirnya saat jari Dharma memilin putingnya. “Ini sudah terlalu lama…”

Dharma menunduk, mencium leher Wulan yang penuh kiss mark. Lidahnya menjilat pelan, menghisap kulit putih itu hingga Wulan menggelinjang. “Bilang aja kamu menginap di tempat adikmu. Kamu bilang kan adikmu ada di Jakarta? Sekali-sekali. Malam ini aku belum puas sama kamu.”

Tangan Dharma turun lebih rendah. Telapak kasarnya mengusap perut Wulan, lalu menyusup ke antara pahanya yang masih lengket. Jari tengahnya menggesek bibir vagina yang bengkak dan basah, memutar pelan di clit yang sensitif.

“Ahh… jangan… Pak…” desah Wulan. Pinggulnya malah terangkat sedikit, menyambut sentuhan itu. Vaginanya kembali mengeluarkan cairan hangat, bercampur sperma Dharma yang masih tersisa di dalam.

“Kamu basah lagi,” gumam Dharma di telinga Wulan. Suaranya parau dan dominan. “Tubuh kamu jujur, Wulan. Meski mulutnya bilang pulang, memeknya minta diisi lagi.”

Ia memasukkan dua jari sekaligus, menggoyang perlahan dengan ritme yang terkontrol. Bunyi kecipak basah terdengar jelas di ruangan kecil itu. Wulan menggigit bibir bawahnya kuat, berusaha menahan desahan, tapi gagal. Napasnya tersengal-sengal.

Dharma terus merayu sambil merangsang. Bibirnya menghisap puting Wulan bergantian, lidahnya memutar di puncak yang keras. Tangan kirinya meremas bokong Wulan, jari-jarinya sesekali menyentuh lubang belakang secara nakal. Setiap gerakan membuat Wulan semakin lemah.

“Kasihan suamimu kalau kamu pulang malam-malam begini,” bisik Dharma sambil menambah kecepatan jarinya. “Mending menginap di sini. Besok pagi aku antar kamu sebelum kantor. Kita bisa bercinta sekali lagi pelan-pelan.”

Wulan sudah tak kuat. Panik bercampur kenikmatan membuat pikirannya kacau. Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar. Dharma tak berhenti merangsangnya—jari-jarinya terus keluar-masuk, ibu jarinya menggosok clit dengan sempurna.

“Halo, Mas…” suara Wulan berusaha normal saat Andi mengangkat. “Iya… aku lagi di rumah adik. Tadi dia tiba-tiba sakit perut, minta ditemenin. Iya… aku menginap di sini saja ya. Besok pagi langsung ke kantor.”

Andi terdengar percaya, hanya mengingatkan Wulan untuk hati-hati. Begitu telepon ditutup, Wulan melempar ponsel ke samping dan mendesah keras. “Aku bohong… aku bohong sama suamiku…”

Dharma tersenyum kecil, puas. Matanya penuh kemenangan maskulin. “Bagus. Sekarang kamu benar-benar milik aku malam ini.”

Ia menarik Wulan ke atas tubuhnya. Wulan sekarang duduk di pangkuan Dharma, kakinya mengangkang lebar. Kontol Dharma sudah kembali keras sepenuhnya, batang tebalnya berdiri tegak, urat-urat menonjol, kepala mengkilap.

“Masukkan sendiri,” perintah Dharma pelan tapi tegas.

Wulan menggigit bibir, malu-malu. Tapi tangannya turun, memegang kontol Dharma yang panas dan berdenyut. Ia menggesekkan kepalanya di bibir vaginanya yang basah, lalu perlahan menurunkan pinggulnya.

“Ahhh… besar…” erang Wulan saat kontol itu meregangkannya lagi. Ia turun perlahan hingga pangkal, merasakan setiap inci yang memenuhi dirinya. Vaginanya masih sensitif dari ronde sebelumnya, membuatnya semakin sempit.

Dharma memegang pinggul Wulan, membantunya naik-turun. Ritme dimulai pelan. Payudara Wulan bergoyang indah di depan wajah Dharma. Pria itu mengangkat kepala, mengisap putingnya bergantian sambil tangannya meremas bokong Wulan.

“Gerakkan pinggulmu, Sayang,” bisik Dharma. “Goyang seperti tadi.”

Wulan mulai menggoyang pinggulnya. Naik-turun, lalu memutar. Bunyi basah “plok-plok” kembali terdengar. Ia semakin liar, tangannya bertumpu di dada bidang Dharma. Keringat mulai menetes di antara payudaranya.

Dharma tiba-tiba duduk, memeluk pinggang Wulan erat. Posisi mereka sekarang duduk saling berhadapan. Ia menghunjam dari bawah dengan kuat, kontolnya naik menyentuh titik paling dalam setiap kali. Wulan memeluk leher Dharma, bibir mereka saling mencium rakus. Lidah mereka menari, air liur menetes.

“Enak, Wulan?” tanya Dharma di sela ciuman.

“Enak… ahh… kontol Bapak enak banget…” jawab Wulan tanpa malu lagi. “Dalam sekali… mau keluar lagi…”

Dharma mempercepat hunjaman dari bawah. Tangan kanannya turun, menggosok clit Wulan dengan cepat. Tubuh Wulan mengejang hebat. Orgasme ketiganya malam itu datang dengan kuat, vagina-nya mengejang kuat menggenggam kontol Dharma. Ia menjerit di bahu pria itu, tubuhnya kejang-kejang.

Dharma tak berhenti. Ia membalik posisi Wulan ke doggy lagi, menghunjam dari belakang dengan ritme kasar tapi penuh gairah. Setiap dorongan menghantam bokong Wulan hingga bergoyang. Tangan Dharma menarik rambut Wulan pelan, membuat punggungnya melengkung.

Beberapa menit kemudian, dengan erangan berat, Dharma menyemburkan sperma panasnya lagi ke dalam vagina Wulan. Jet demi jet tebal, memenuhi rahim wanita itu hingga meluber keluar di sekitar batang kontolnya.

Mereka ambruk bersama. Dharma memeluk Wulan dari belakang, kontolnya masih tertanam dalam. Tangan besarnya mengusap payudara Wulan lembut, mencium tengkuknya dengan sayang.

“Tidur di sini,” bisik Dharma. “Besok pagi kita mandi bareng.”

Wulan hanya mengangguk lemah. Tubuhnya lelah, tapi hati dan vaginanya penuh kenikmatan terlarang. Rasa bersalah masih ada, tapi semakin tenggelam dalam pelukan hangat pria yang kini membuatnya merasa hidup.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Wulan tidur di pelukan orang yang bukan suaminya—dengan vagina yang masih penuh cairan pria itu.


Bab 9: Hasrat Pagi yang Tak Terbendung

Jam menunjukkan pukul 04:37 pagi saat Dharma terbangun. Kamar kontrakan masih gelap, hanya cahaya samar dari lampu jalan yang menyusup lewat celah gorden tipis. Udara pengap bercampur aroma seks semalam masih pekat. Dharma menoleh ke samping dan napasnya langsung tertahan.

Wulan tertidur telentang di sebelahnya, tubuh telanjangnya terpapar tanpa penutup. Seprai kusut hanya menutupi separuh paha. Payudara sedangnya naik-turun pelan mengikuti napas, putingnya masih agak bengkak dan kemerahan bekas hisapan semalam. Kulit putih mulusnya berkilau samar oleh keringat kering. Rambut hitam lurusnya acak-acakan di bantal. Kedua pahanya sedikit terbuka, memperlihatkan vagina yang masih merah dan sedikit bengkak. Sisa sperma Dharma yang kental mengering di bibir vaginanya dan mengalir tipis ke sprei.

Dharma menelan ludah. Kontolnya yang semula lemas langsung mengeras dengan cepat, tegang dan berdenyut menyakitkan. Pagi ini hasratnya bangun lebih dulu daripada tubuhnya.

Ia bergeser pelan, tak ingin membangunkan Wulan terlalu cepat. Tubuh kekarnya bergerak ke bawah, kepalanya turun di antara paha Wulan yang terbuka. Aroma khas wanita itu—campuran cairan tubuh, sperma, dan keringat—langsung memabukkan.

Dharma menghirup dalam-dalam, lalu menjulurkan lidah lebarnya. Ia menjilat pelan dari lubang vagina ke atas, membersihkan sisa sperma kering dengan lidahnya. Rasanya asin dan manis bercampur.

“Mmhh…” Wulan menggeliat pelan dalam tidurnya, tapi belum terbangun sepenuhnya.

Dharma semakin berani. Ia menempelkan mulutnya di vagina Wulan, menghisap lembut bibirnya yang bengkak, lalu lidahnya menyusup masuk ke lubang yang masih lengket. Ia menjilat dinding dalam dengan gerakan lambat tapi dalam, menikmati setiap denyut kecil yang mulai muncul.

Wulan mulai mendesah pelan dalam tidur. Pinggulnya bergerak pelan, seolah mencari lebih. Dharma tersenyum di antara pahanya. Ia naik sedikit, menemukan clit yang kecil tapi sudah mulai mengeras. Lidahnya memutar di sana dengan cepat, sesekali menghisap pelan seperti sedang menyedot permen.

“Ahh…” desah Wulan lebih keras. Matanya berkedip pelan, masih setengah sadar. Ia merasa ada kehangatan basah yang luar biasa di selangkangannya. Saat kesadarannya naik, ia melihat kepala Dharma yang bergerak di antara kedua pahanya yang terbuka lebar.

“Pak… Dharma… ahh!” Wulan tersentak, tangannya langsung meraih rambut pria itu. Bukan mendorong menjauh, tapi malah menekan lebih dalam.

Dharma mendongak sebentar. Matanya gelap penuh nafsu di bawah cahaya temaram. “Pagi, Sayang. Memek kamu enak banget pagi-pagi begini. Masih penuh sperma aku semalam.”

Ia kembali menunduk, kali ini lebih rakus. Dua jari tebalnya memasukkan ke dalam vagina Wulan sambil lidahnya terus menggoda clit. Gerakan jarinya cepat dan terarah, menggosok titik G yang sudah sensitif. Suara kecipak basah terdengar jelas di kamar yang sepi.

Wulan menggelinjang hebat. Kakinya terangkat, tumitnya menekan punggung Dharma. “Ahh… Pak… enak… pelan… ahh… aku mau keluar…”

Orgasme pagi itu datang cepat. Tubuh Wulan mengejang, vaginanya mengepal kuat di jari Dharma. Cairan beningnya menyembur kecil ke mulut pria itu. Wulan menutup mulutnya sendiri dengan tangan agar tak menjerit terlalu keras.

Dharma naik ke atas sambil menjilat bibirnya yang basah oleh cairan Wulan. Kontolnya yang sudah sangat tegang menggesek paha dalam Wulan. Ia mencium Wulan dalam, membagikan rasa tubuh wanita itu sendiri.

“Rasain sendiri,” bisik Dharma parau. “Enak kan memek kamu?”

Wulan hanya bisa mendesah di dalam ciuman. Tubuhnya masih gemetar sisa orgasme, tapi ia sudah merangkul leher Dharma, kakinya terbuka lebar menyambut.

Dharma memposisikan kepala kontolnya di lubang vagina yang basah dan berkedut. Dengan satu dorongan pelan tapi kuat, ia masuk hingga separuh.

“Ngghh… masih sempit banget,” erang Dharma. Ia mendorong lagi, perlahan tapi pasti, hingga seluruh batang tebalnya tenggelam dalam vagina Wulan. Mereka berdua mendesah panjang bersamaan.

Pagi itu mereka bercinta dengan ritme yang lambat tapi dalam. Dharma menopang tubuhnya dengan lengan berotot, menghunjam pelan sambil menatap wajah Wulan yang penuh kenikmatan. Setiap kali kontolnya masuk penuh, kepalanya menyentuh serviks Wulan, membuat wanita itu menggelinjang.

“Enak, Wulan?” tanya Dharma sambil menggoyang pinggulnya memutar.

“Enak… kontol Bapak… memenuhi aku semua…” jawab Wulan dengan suara manja yang belum pernah ia dengar dari mulutnya sendiri. Tangan Wulan meraba dada bidang Dharma, merasakan otot yang menegang setiap kali pria itu mendorong.

Dharma mempercepat sedikit. Ia menarik salah satu kaki Wulan ke atas bahunya, membuat penetrasi semakin dalam. Posisi ini membuat kontolnya menggesek dinding atas vagina Wulan dengan sempurna. Bunyi “plok… plok… plok” pelan tapi ritmis memenuhi kamar.

Wulan meracau. Payudaranya bergoyang-goyang mengikuti setiap hunjaman. Dharma menunduk, mengisap putingnya kuat sambil terus memompa. Keringat mulai menetes dari dahi pria itu ke dada Wulan.

“Pak… aku mau lagi… ahh… lebih cepat…” pinta Wulan, pinggulnya ikut bergerak menyambut.

Dharma tersenyum dominan. Ia menarik keluar sepenuhnya, lalu membalik tubuh Wulan dengan mudah. Kini Wulan berbaring tengkurap. Dharma menindih dari atas, memasukkan kontolnya lagi dari belakang dalam satu dorongan kuat.

“Aaahhh!” desah Wulan panjang. Posisi ini terasa lebih penuh, lebih kasar.

Dharma menghunjam dengan ritme sedang tapi kuat. Setiap dorongan menghantam bokong Wulan hingga bergoyang. Tangan pria itu meraih kedua tangan Wulan, menekannya di atas kepala, membuat Wulan benar-benar berada di bawah kendalinya. Tubuh kekarnya menekan tubuh Wulan yang lembut, panas kulit mereka bercampur.

“Kamu milik aku pagi ini,” bisik Dharma di telinga Wulan sambil terus mengenjot. “Memek kamu milik kontol aku.”

Wulan hanya bisa mendesah dan mengangguk. Kenikmatan ini membuatnya melayang. Rasa bersalah tentang suaminya masih ada di sudut pikiran, tapi setiap kali kontol Dharma menghunjam dalam, pikiran itu hancur berkeping-keping.

Dharma mempercepat. Ia melepaskan tangan Wulan dan meraih pinggulnya, menarik bokong Wulan ke atas sedikit agar bisa menghunjam lebih dalam. Gerakannya semakin kasar, suara benturan daging semakin keras.

Wulan orgasme lagi dengan hebat. Vaginanya mengejang kuat, memijat kontol Dharma. Tubuhnya kejang di bawah pria itu, mulutnya mendesah nama Dharma berulang-ulang.

Dharma tak tahan lama. Dengan beberapa hunjaman kuat terakhir, ia menyemburkan sperma paginya jauh ke dalam rahim Wulan. Jet panas yang tebal memenuhi wanita itu lagi. Ia mendesah berat di telinga Wulan, tubuhnya mengejang saat melepaskan segalanya.

Mereka terbaring saling menempel, napas tersengal. Dharma masih di dalam Wulan, kontolnya berdenyut pelan mengeluarkan sisa sperma. Tangan pria itu mengusap pinggul Wulan lembut, mencium bahunya dengan penuh kasih.

“Pagi yang bagus,” gumam Dharma sambil tersenyum.

Wulan membalik tubuhnya sedikit, memeluk dada Dharma. Vaginanya masih berdenyut kuat, penuh cairan pria itu. Ia merasa lelah, puas, dan semakin tenggelam dalam hubungan terlarang ini.

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Pagi yang baru saja dimulai, tapi bagi mereka, hari sudah penuh dengan dosa dan kenikmatan.


Bab 10: Rayuan yang Tak Bisa Ditolak

Wulan terbangun pukul 06:05 pagi dengan tubuh yang terasa remuk. Setiap ototnya pegal, terutama pinggul dan paha dalam. Tapi di balik rasa lelah itu, ada kenikmatan yang masih berdenyut-denyut. Vaginanya terasa penuh, basah, dan berdenyut pelan. Setiap kali ia bergerak sedikit, sisa sperma Dharma yang kental terasa meluncur keluar, membasahi sprei di bawah bokongnya.

Ia menarik napas dalam, mencoba mengingat semuanya. Tubuh telanjangnya masih panas. Payudaranya penuh bekas merah, leher dan dada dipenuhi kiss mark. Bau seks masih pekat di udara kamar kontrakan kecil itu.

Pintu kamar mandi terbuka. Dharma keluar hanya memakai handuk yang melilit pinggang. Tubuh kekarnya masih basah, air menetes di dada bidang dan perut berotot. Kontolnya sudah setengah tegang, menggantung berat di antara pahanya yang kekar.

Wulan langsung menarik seprai untuk menutupi dada, pipinya memerah malu. “Pak… sudah pagi sekali.”

Dharma tersenyum tipis melihat sikap malu-malu Wulan. Ia mendekat dan duduk di tepi kasur, tangan besarnya langsung menyentuh paha Wulan di atas seprai. “Pagi, Sayang. Badan kamu capek ya?”

Wulan mengangguk pelan, matanya tak berani menatap langsung ke wajah pria itu. “Capek… tapi… masih enak.”

Dharma tertawa pelan, suaranya berat dan maskulin. Tangan kasarnya menyusup di bawah seprai, mengusap paha dalam Wulan yang masih lengket. Jarinya naik lebih tinggi, menyentuh bibir vagina yang bengkak dan basah.

“Memek kamu masih berdenyut, kan?” bisik Dharma di telinga Wulan. “Masih penuh sperma aku. Enak banget rasanya semalam.”

Wulan menggigil. Vaginanya memang langsung berdenyut lebih kencang mendengar kata-kata kotor itu. Ia menggigit bibir, berusaha menahan desahan.

Dharma menarik seprai hingga jatuh ke pinggang Wulan. Payudaranya yang putih terpapar lagi. Ia meremas payudara kiri Wulan pelan, memilin putingnya yang langsung mengeras.

“Wulan… hari ini kita nggak usah masuk kantor,” kata Dharma sambil terus meraba. “Kamu izin sakit. Aku juga. Kita habiskan seharian di sini. Aku mau bercinta sama kamu sampai kamu nggak bisa jalan.”

Wulan tersentak. “Nggak bisa, Pak… ada meeting pagi ini. Aku—”

Belum selesai bicara, Dharma sudah mencium bibirnya. Ciuman pagi yang lembut tapi penuh nafsu. Lidahnya menyusup masuk, menjilat lidah Wulan dengan sensual. Tangan pria itu terus meremas payudara dan mengusap vagina Wulan secara bersamaan. Jari tengahnya menggosok clit pelan, membuat cairan baru keluar lagi.

Wulan mendesah di dalam ciuman. Tangannya yang tadinya menolak kini malah merangkul leher Dharma. Gairahnya naik dengan cepat. Pikiran tentang kantor, meeting, dan suaminya mulai kabur.

Dharma melepaskan ciuman, bibir mereka masih bersentuhan. “Bilang aja kamu lagi sakit perut. Atau pusing. Sekali-sekali. Aku pengen banget punya kamu seharian penuh. Mau lihat kamu orgasme berkali-kali di kontol aku.”

Rayuan itu diucapkan dengan suara berat yang menggoda. Jari Dharma memasukkan dua sekaligus ke dalam vagina Wulan, menggoyang perlahan sambil ibu jarinya terus menggosok clit.

“Ahh… Pak… jangan begitu…” desah Wulan. Pinggulnya malah terangkat, menyambut jari-jari tebal itu. Vaginanya semakin basah, bunyi kecipak kecil terdengar.

Dharma mencium lehernya, menghisap kulit putih itu sambil terus merangsang. “Kamu sudah basah lagi. Memek kamu mau kontol aku, Wulan. Jangan bohong sama diri sendiri.”

Wulan menggeleng lemah, tapi tangannya malah meraba dada bidang Dharma, merasakan otot yang keras. Gairahnya sudah naik tinggi. Rasa lelah di tubuhnya berubah menjadi hasrat yang membara.

Akhirnya ia meraih ponsel dengan tangan gemetar. Dharma tak berhenti meraba-raba. Jari-jarinya terus keluar-masuk pelan, membuat Wulan sulit berkonsentrasi.

“Halo… Bu Rina, ini Wulan. Maaf… saya nggak bisa masuk hari ini. Badan kurang enak, pusing dan perut mules banget semalaman. Iya… istirahat di rumah saja. Nanti laporan saya kirim lewat email.”

Begitu telepon ditutup, Wulan melempar ponsel ke samping dan mendesah keras. “Aku sudah gila… bohong lagi…”

Dharma tersenyum lebar, mata maskulinnya penuh kemenangan. “Bagus sekali.”

Ia langsung mencium Wulan dengan ganas. Ciuman kali ini penuh kelaparan. Lidah mereka saling menjilat rakus, air liur menetes di dagu. Dharma menindih tubuh Wulan sepenuhnya, kontolnya yang sudah keras sepenuhnya menekan perut Wulan.

Wulan membalas ciuman dengan liar. Tangannya meraih handuk Dharma, menariknya lepas. Kontol besar dan tebal itu langsung menempel di kulit perutnya yang halus, panas dan berdenyut.

Dharma mengangkat kedua kaki Wulan, menekuknya hingga dada. Posisi Misionaris yang sangat terbuka. Kepala kontolnya menggesek bibir vagina yang basah beberapa kali, lalu mendorong masuk dengan satu gerakan kuat hingga pangkal.

“Aaahhh!” jerit Wulan panjang. Matanya terpejam, mulutnya terbuka. Rasa penuh yang luar biasa membuatnya melengkungkan punggung.

Dharma mulai mengenjot dengan ritme sedang tapi kuat. Setiap dorongan menghantam dalam, kontol tebalnya menggesek dinding vagina Wulan yang sensitif. Bunyi “plok-plok-plok” basah memenuhi kamar kecil itu.

“Enak, Sayang?” tanya Dharma sambil terus memompa. Keringat sudah menetes dari dadanya ke payudara Wulan.

“Enak… ahh… kontol Bapak… besar sekali… ngisi aku semua…” jawab Wulan dengan suara manja. Kedua tangannya mencengkeram punggung Dharma, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah di kulit sawo matang pria itu.

Dharma mempercepat. Ia menindih lebih dalam, pinggulnya bergerak naik-turun dengan kuat. Tangan kanannya meremas payudara Wulan, tangan kirinya memegang pinggul wanita itu agar tak bergeser. Setiap hunjaman membuat kepala kontolnya menyentuh serviks Wulan.

Wulan orgasme pertama pagi itu datang dengan hebat. Tubuhnya mengejang, vaginanya mengepal kuat menggenggam kontol Dharma. Ia menjerit nama pria itu sambil mencakar punggungnya.

Tapi Dharma tak berhenti. Ia terus mengenjot melalui orgasme Wulan, membuat kenikmatan itu berkepanjangan. Beberapa menit kemudian ia membalik tubuh Wulan ke posisi doggy. Bokong bulat Wulan terangkat tinggi, vagina yang merah dan basah terbuka lebar.

Dharma menghunjam masuk dari belakang dengan satu dorongan kuat. Ia memegang pinggul Wulan erat, menariknya ke belakang setiap kali mendorong ke depan. Ritme semakin kasar. Suara benturan bokong Wulan ke pangkal paha Dharma terdengar keras.

“Plak! Plak! Plak!”

Wulan meracau tak karuan. Rambut hitamnya dipegang Dharma, punggungnya ditarik hingga melengkung. Posisi ini membuat kontol Dharma terasa semakin besar dan dalam.

Mereka bercinta hampir satu jam penuh dengan berbagai posisi. Dharma mengajak Wulan menunggangi dirinya, lalu kembali ke misionaris, lalu side fuck sambil memeluk erat dari belakang.

Pukul delapan pagi, Dharma menyemburkan sperma panasnya yang ketiga kalinya ke dalam vagina Wulan. Jet demi jet tebal memenuhi rahim wanita itu hingga penuh dan meluber keluar.

Mereka ambruk berpelukan, napas tersengal-sengal. Dharma mencium kening Wulan lembut, tangannya mengusap punggung wanita itu penuh kasih.

“Hari ini kamu milik aku sepenuhnya,” bisiknya.

Wulan hanya tersenyum lemah di dada pria itu. Vaginanya masih berdenyut kuat, penuh sperma. Pikirannya kosong. Hanya ada kenikmatan dan rasa memiliki yang kuat dari Dharma.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melupakan kantor, suaminya, dan segala tanggung jawabnya.


Bab 11: Mandi yang Panas dan Licin

Pukul 08:15 pagi, perut Wulan berbunyi pelan. Tubuhnya terbaring lemas di kasur sempit, masih telanjang, kulit putihnya berkilau oleh keringat kering dan sisa cairan tubuh. Vaginanya terasa penuh dan lengket, sperma Dharma yang kental masih sesekali meluncur keluar saat ia bergerak. Payudaranya naik-turun pelan, putingnya masih sensitif dan kemerahan.

Dharma yang sedang memeluknya dari belakang tertawa pelan. Suara beratnya terdengar serak karena puas. “Laper ya? Aku beliin sarapan dulu.”

Ia bangun, memakai celana pendek dan kaos oblong hitam. Tubuh tegapnya masih terlihat menggoda meski baru selesai bercinta. Sebelum keluar, Dharma menunduk dan mencium bibir Wulan dalam-dalam, tangan besarnya meremas payudara wanita itu sekali lagi sebagai janji.

“Jangan pakai baju. Tunggu aku telanjang saja,” bisiknya sebelum pergi.

Wulan tersenyum malu-malu. Sendirian di kamar, ia menatap langit-langit. Rasa bersalah datang sebentar — *Aku bolos kerja, bohong sama suami, tidur dengan pria lain semalaman* — tapi kenikmatan yang masih berdenyut di vaginanya lebih kuat. Ia meraba selangkangannya sendiri, merasakan betapa basah dan bengkaknya di sana.

Dua puluh menit kemudian Dharma kembali dengan dua bungkus nasi uduk, gorengan, dan kopi hangat. Mereka makan berdua di kasur, duduk bersila sambil telanjang. Dharma sesekali menyuapi Wulan, lalu mencium bibirnya yang berminyak. Suasana pagi itu terasa anehnya intim dan rumah tangga, meski penuh dosa.

Setelah makan, Dharma berdiri dan mengulurkan tangan. “Mandi bareng yuk. Kamar mandinya kecil, tapi muat berdua.”

Wulan ragu sebentar, tapi akhirnya mengangguk. Ia berdiri telanjang, tubuh proporsionalnya terpapar di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela kecil. Dharma menatapnya lapar, kontolnya sudah mulai setengah tegang lagi.

Kamar mandi kontrakan itu memang sempit — hanya shower tanpa pembatas, wastafel kecil, dan kloset. Tapi justru itu yang membuat semuanya semakin panas. Air hangat dinyalakan. Dharma masuk lebih dulu, lalu menarik Wulan ke dalam pelukannya.

Air mengguyur tubuh mereka berdua. Dharma memeluk Wulan dari belakang, kontolnya yang sudah keras menekan bokong bulat wanita itu. Tangan besarnya menyabuni payudara Wulan dengan sabun cair, meremas dan memilin putingnya sambil air mengalir deras.

“Enak ya?” bisik Dharma di telinga Wulan. Giginya menggigit pelan cuping telinga wanita itu.

Wulan mendesah, kepalanya bersandar ke dada bidang Dharma. “Iya… tangan Bapak enak…”

Sabun membuat kulit mereka licin. Tangan Dharma turun ke perut Wulan, lalu ke vagina yang masih penuh sisa sperma. Jarinya mengusap bibir vagina dengan lembut, membersihkan sekaligus merangsang. Dua jari masuk perlahan, mengaduk-aduk cairan di dalam sambil air shower membersihkan semuanya.

“Ahh… Pak… jangan di situ…” desah Wulan, tapi pinggulnya malah bergerak maju mundur, menyambut jari-jari tebal itu.

Dharma membalik tubuh Wulan menghadapnya. Ia mencium bibir wanita itu dalam-dalam di bawah guyuran air. Lidah mereka saling menari, air hangat bercampur air liur. Tangan Wulan turun, memegang kontol Dharma yang sudah keras maksimal. Ia mengocok pelan, merasakan urat-urat yang menonjol dan kepala yang besar.

Dharma mendongak, erangan berat keluar dari mulutnya. “Kocok lebih cepat, Sayang.”

Wulan menurut. Tangan halusnya mengocok batang tebal itu dengan gerakan naik-turun yang semakin cepat. Sabun membuatnya semakin licin. Dharma meremas bokong Wulan kuat, satu jarinya bahkan menyentuh lubang belakang secara nakal.

Tak tahan lama, Dharma mengangkat salah satu kaki Wulan, menyandarkannya ke pinggir dinding kamar mandi. Posisi Wulan sekarang berdiri dengan satu kaki terangkat tinggi, vagina terbuka lebar.

Dharma memegang kontolnya sendiri, menggesekkan kepala besarnya di bibir vagina Wulan yang licin beberapa kali, lalu mendorong masuk dengan satu gerakan kuat.

“Aaahhh!” jerit Wulan. Air shower membuat suaranya sedikit teredam. Rasa penuh itu datang lagi, kontol Dharma meregangkannya lebar di posisi berdiri.

Dharma mulai mengenjot. Ritme kuat dan stabil. Setiap dorongan membuat tubuh Wulan terangkat sedikit. Payudaranya bergoyang-goyang, air mengalir di antara belahan dada. Tangan Dharma memegang pinggul Wulan kuat, menariknya ke depan setiap kali menghunjam.

“Plok! Plok! Plok!” Suara benturan daging basah bercampur suara air shower.

Wulan memeluk leher Dharma erat, kuku-kukunya mencakar punggung pria itu. “Dalam… ahh… kontol Bapak ngena banget di sini…”

Dharma mempercepat. Ia menunduk, mengisap puting Wulan yang basah sambil terus memompa. Posisi berdiri membuat penetrasi terasa berbeda — lebih kasar, lebih primitif. Setiap kali kontolnya masuk penuh, kepalanya menyentuh titik paling sensitif Wulan.

Wulan orgasme pertama di kamar mandi datang dengan hebat. Kakinya yang terangkat gemetar hebat, vaginanya mengejang kuat menggenggam kontol Dharma. Ia menjerit di bahu pria itu, tubuhnya hampir ambruk kalau tidak ditopang tubuh kekar Dharma.

Dharma tak berhenti. Ia membalik tubuh Wulan, membuat wanita itu membungkuk menghadap dinding. Bokong bulat Wulan terangkat, air mengalir di punggungnya yang melengkung. Dharma menghunjam dari belakang dengan ganas. Tangan kirinya meremas payudara Wulan dari bawah, tangan kanannya memegang pinggul sambil sesekali menepuk bokong pelan.

“Plak! Plak!”

“Kamu suka diginiin ya?” erang Dharma sambil terus mengenjot.

“Iya… suka… kasar… ahh… aku milik Bapak…” jawab Wulan dengan suara putus-putus.

Dharma menghunjam semakin cepat. Air shower membuat tubuh mereka semakin licin, gesekan semakin panas. Beberapa menit kemudian, dengan erangan berat, ia menyemburkan sperma panasnya lagi ke dalam vagina Wulan. Jet demi jet tebal menyembur di bawah guyuran air hangat.

Mereka berdiri saling berpelukan lama di bawah shower, napas tersengal. Dharma mencium kening Wulan lembut, tangannya mengusap punggung wanita itu penuh sayang.

Mereka mandi bersih bersama, saling menyabuni dengan lembut. Tapi bahkan saat membersihkan, tangan Dharma tak bisa lepas dari tubuh Wulan — meremas, mengusap, sesekali memasukkan jari lagi ke dalam vagina yang masih berkedut.

Keluar dari kamar mandi, tubuh mereka segar tapi hasrat belum padam sama sekali. Wulan tahu, hari ini masih panjang. Dan ia sudah tak ingin berhenti.


Bab 12: Mulut yang Malu-malu

Jam menunjukkan pukul 11 siang. Cahaya matahari menyusup lemah melalui gorden tipis kamar kontrakan. Wulan dan Dharma berbaring telanjang di kasur sempit yang sudah kusut parah. Mereka baru saja selesai mandi, tapi tubuh masih terasa panas. Wulan bersandar di kepala kasur sambil bermain ponsel, sesekali tersenyum kecil membaca chat Meita yang khawatir karena ia bolos kerja. Dharma di sebelahnya juga asyik scroll ponsel, satu tangan besarnya santai mengusap paha dalam Wulan.

Suasana tenang hanya beberapa menit.

Tiba-tiba Dharma meletakkan ponselnya. Ia bergeser lebih dekat, tubuh kekarnya menempel di sisi Wulan. Tangan kasarnya naik pelan dari paha ke pinggul, lalu meremas lembut pinggang wanita itu.

“Wulan,” bisiknya dengan suara berat yang sudah parau lagi. “Aku pengen sesuatu.”

Wulan menoleh, alisnya terangkat. “Apa lagi, Pak? Baru aja selesai mandi…”

Dharma tersenyum tipis. Matanya gelap penuh nafsu. Ia memegang tangan Wulan dan mengarahkan ke kontolnya yang sudah setengah tegang. Batang tebal itu langsung berdenyut di telapak tangan halus Wulan.

“Aku mau kamu hisap,” kata Dharma langsung. “Pake mulut kamu yang cantik itu.”

Wulan tersentak. Pipinya langsung memerah hebat. Ia menarik tangannya cepat, meski jantungnya berdegup kencang. “Pak… aku belum pernah. Nggak bisa.”

Dharma tidak marah. Ia malah mendekat lebih lagi, mencium leher Wulan pelan sambil tangannya meremas payudara wanita itu. Jempolnya memutar puting yang langsung mengeras.

“Belum pernah sama siapa pun?” tanyanya lembut tapi dominan.

Wulan menggeleng malu. “Andi nggak suka yang begituan… Aku takut nggak bisa. Takut gigit atau… jelek.”

Dharma tertawa pelan, suaranya hangat di telinga Wulan. “Justru karena itu aku mau diajari sama kamu. Mulut kamu ini seksi banget, bibirnya tebal. Aku yakin enak. Coba ya, Sayang… buat aku senang.”

Rayuan itu diucapkan sambil tangan Dharma turun ke selangkangan Wulan. Jari tengahnya mengusap bibir vagina yang masih sensitif, memutar pelan di clit. Wulan langsung menggigil, cairan baru keluar lagi.

“Pak… malu…” bisik Wulan, tapi suaranya sudah mulai melemah.

Dharma menarik tubuh Wulan hingga duduk di tepi kasur. Ia sendiri berdiri di depan, kontolnya yang sudah keras penuh berdiri tegak di depan wajah Wulan. Batang tebal, urat menonjol, kepala merah mengkilap oleh precum.

“Pegang dulu,” perintah Dharma pelan.

Wulan menurut dengan tangan gemetar. Ia memegang pangkal kontol Dharma. Panas. Berat. Berdenyut kuat. Ia menatapnya lama, lalu mendongak dengan wajah malu.

Dharma mengusap rambut Wulan lembut. “Cium dulu ujungnya. Pelan saja.”

Wulan mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh kepala kontol yang panas. Ia mencium pelan, lalu menjulurkan lidah kecilnya, menjilat precum yang asin. Dharma mendesah berat, tangannya meremas rambut Wulan lebih erat.

“Bagus… sekarang buka mulut. Masukkan sedikit.”

Wulan membuka bibirnya yang merah. Kepala kontol Dharma masuk ke dalam mulut hangatnya. Rasanya penuh, tebal, dan panas. Ia mulai menggerakkan kepala pelan, naik-turun, hanya separuh batang.

Dharma membimbingnya dengan sabar. “Lidahnya jilat bawahnya… iya gitu… hisap pelan… ahh, enak banget, Wulan…”

Wulan semakin berani. Mulutnya naik-turun lebih dalam, meski hanya bisa setengah karena ukuran Dharma yang besar. Suara kecupan basah dan erangan rendah Dharma memenuhi kamar. Air liur Wulan menetes di sepanjang batang kontol, membuatnya semakin licin.

Setengah jam berlalu. Wulan mengoral dengan semakin mahir. Pipinya kempis setiap kali menghisap, lidahnya menjilat urat-urat yang menonjol. Tapi Dharma belum juga keluar. Kontol pria itu tetap keras tegang, bahkan semakin berdenyut kuat.

Wulan melepaskan kontol itu dengan suara “plop” basah. Napasnya tersengal, bibirnya bengkak dan basah air liur. Ia menatap kontol Dharma yang masih tegak dengan wajah malu dan kecewa.

“Kenapa belum keluar ya… Aku nggak bisa ya?” tanyanya pelan, suaranya serak.

Dharma tersenyum. Ia mengusap bibir Wulan dengan ibu jarinya. “Kamu sudah hebat. Tapi aku tahan lama. Sekarang gantian aku yang puasin kamu.”

Ia mendorong Wulan hingga berbaring, lalu langsung menunduk ke selangkangan wanita itu. Tanpa aba-aba, mulut Dharma menyambar vagina Wulan yang sudah basah. Lidah lebarnya menjilat dari bawah ke atas dengan rakus, menghisap bibir vagina, lalu memutar cepat di clit.

“Ahh! Pak… ahh!” Wulan langsung menggelinjang hebat. Tangannya meremas rambut Dharma. Pria itu mengisap clitnya kuat sambil memasukkan dua jari tebal ke dalam vagina, menggoyang cepat mengarah ke titik G.

Orgasme datang dalam waktu singkat. Tubuh Wulan mengejang keras, cairannya menyembur kecil ke mulut Dharma. Ia menjerit, pinggulnya naik-turun liar di wajah pria itu.

Belum sempat Wulan reda dari kenikmatan, Dharma sudah naik ke atas. Ia memegang kedua paha Wulan, menekuknya ke dada, lalu menghunjam kontolnya yang masih keras masuk dalam satu dorongan kuat hingga pangkal.

“Aaahhh!” jerit Wulan panjang. Vaginanya yang masih berdenyut orgasme langsung diregangkan lagi.

Dharma mengenjot dengan ritme ganas. Setiap dorongan kuat dan dalam. Kasur sempit berderit keras mengikuti gerakan pinggulnya. Tangan pria itu meremas payudara Wulan kuat, memilin putingnya kasar.

“Enak, Wulan? Kontol aku enak di memek kamu?” tanya Dharma sambil terus memompa.

“Enak… ahh… enak banget, Pak… lebih dalam… genjot aku keras…” Wulan sudah tak malu lagi. Kakinya melingkar di pinggang Dharma, tumitnya menekan bokong pria itu meminta lebih kuat.

Mereka bercinta dengan liar di siang bolong. Dharma berganti posisi dua kali — dari misionaris ke doggy, lalu kembali ke atas sambil menatap wajah Wulan yang penuh kenikmatan.

Pukul hampir satu siang, Dharma akhirnya meledak. Dengan erangan berat, ia menyemburkan sperma panasnya yang banyak dan tebal jauh ke dalam rahim Wulan. Tubuh pria itu mengejang di atas tubuh Wulan yang sudah lemas tak bertenaga.

Mereka ambruk berpelukan. Kontol Dharma masih tertanam dalam, berdenyut pelan mengeluarkan sisa sperma. Wulan memeluk leher pria itu, napasnya tersengal, tubuhnya berkeringat.

“Aku… sudah kecanduan,” bisik Wulan pelan di dada Dharma.

Dharma mencium keningnya sambil tersenyum puas. “Bagus. Karena aku juga sudah nggak bisa lepas dari kamu.”


Bab 13: Rayuan di Pinggir Kota

Jam menunjukkan pukul 01:15 siang. Udara di kamar kontrakan terasa pengap dan lengket oleh bau seks yang masih pekat. Wulan berbaring telentang di kasur, tubuh telanjangnya basah keringat, rambut hitamnya acak-acakan menempel di dahi dan leher. Vaginanya masih berdenyut pelan, penuh sperma Dharma yang baru saja disemprotkan dalam-dalam. Payudaranya naik-turun cepat, putingnya masih keras dan merah.

Dharma berbaring di sampingnya, satu tangan besarnya santai mengusap perut Wulan yang rata. Ia menatap wanita itu dengan mata puas tapi masih lapar.

“Laper ya?” tanya Dharma dengan suara berat yang masih serak. “Perut aku keroncongan. Kita makan siang dulu.”

Wulan menggeleng pelan. Ia mencoba duduk, tapi pinggulnya terasa pegal. “Nggak usah, Pak. Aku takut ketahuan. Kalau ada yang lihat kita bareng di luar…”

Dharma tersenyum tipis. Ia bangun duduk, otot dadanya menegang. Tangan kasarnya meraih dagu Wulan, memaksa wanita itu menatapnya. “Kamu pikir aku bodoh? Kita ke pinggir kota saja. Daerah Depok atau Cibinong. Di sana nggak ada yang kenal kita. Tenang saja.”

Wulan masih ragu. Rasa bersalah yang sempat reda mulai muncul lagi. “Tapi… mobil aku di sini. Kalau ketemu orang kantor—”

“Aku yang bawa motor. Kamu pakai helm full face. Peluk aku dari belakang seperti kemarin waktu hujan. Siapa yang tahu?” Dharma menunduk, mencium bibir Wulan pelan tapi penuh kuasa. “Aku nggak mau kamu cuma dikurung di kamar ini. Aku mau lihat kamu makan, tersenyum, sambil tahu memek kamu masih penuh sperma aku.”

Kata-kata kotor itu langsung membuat Wulan merinding. Vaginanya berdenyut lagi, cairan campur sperma meluncur keluar sedikit ke sprei. Ia menggigit bibir bawah, lalu mengangguk pelan.

“Baiklah… tapi cepat ya, Pak.”

Mereka mandi cepat bersama lagi. Dharma tak bisa menahan diri, ia meremas bokong Wulan dari belakang sambil menyabuni, jarinya sesekali menyusup ke celah basah itu. Tapi kali ini hanya pemanasan, bukan penetrasi penuh.

Wulan memakai dress tipis yang dibawanya kemarin — yang mudah dilepas. Tanpa bra. Putingnya samar terlihat di balik kain. Dharma memakai kaos polo hitam dan celana jeans yang membuat pahanya terlihat kekar.

Mereka keluar lewat gang belakang. Wulan memakai helm full face hitam milik Dharma. Ia naik ke motor besar itu, memeluk pinggang pria itu erat dari belakang. Dada Wulan menempel di punggung Dharma yang bidang. Kontol pria itu sudah setengah tegang lagi, terasa menekan paha Wulan saat motor melaju.

Perjalanan ke pinggir kota memakan waktu hampir 45 menit. Angin siang menerpa tubuh mereka. Wulan semakin merapat, tangannya sesekali mengusap perut Dharma di balik kaos. Setiap kali motor berhenti di lampu merah, Dharma meraih tangan Wulan dan menekankannya ke kontolnya yang keras di balik celana.

“Aku keras lagi gara-gara kamu peluk erat begini,” bisik Dharma di balik helm.

Wulan hanya tersipu di balik helmnya, tapi vaginanya semakin basah.

Akhirnya mereka sampai di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan raya menuju Depok. Warungnya lumayan sepi karena bukan jam makan puncak. Meja-meja kayu di bawah pohon rindang, angin sepoi-sepoi. Mereka memilih meja di pojok agak tersembunyi.

Dharma memesan nasi goreng spesial, ayam bakar, dan es teh manis untuk berdua. Saat menunggu makanan, tangan pria itu langsung merayap di bawah meja. Ia meletakkan tangan di paha Wulan, mengusap naik ke dalam dress hingga menyentuh celana dalam yang sudah basah.

“Pak… di sini ada orang,” bisik Wulan panik, tapi kakinya malah sedikit terbuka.

“Tenang. Meja ini tertutup kain,” jawab Dharma sambil tersenyum tenang. Jarinya menyusup ke dalam celana dalam, mengusap bibir vagina Wulan yang licin. “Masih penuh sperma aku. Enak banget rasanya.”

Wulan menggigit bibir kuat, berusaha menahan desahan. Pipinya merah padam. Ia pura-pura melihat ponsel saat pelayan membawa makanan. Tapi di bawah meja, jari Dharma terus menggesek clitnya pelan, memutar, sesekali memasukkan ujung jari ke dalam lubang yang basah.

Makanan datang. Mereka makan dengan satu tangan. Tangan Dharma yang lain tetap di selangkangan Wulan, merangsang tanpa henti. Wulan sulit menelan. Setiap kali ia menggigit nasi goreng, jari Dharma semakin dalam, membuatnya hampir mendesah.

“Enak nggak makanannya?” tanya Dharma santai, seolah tak ada apa-apa.

Wulan mengangguk, suaranya hampir hilang. “Enak… tapi… ahh… Pak, tolong…”

Dharma menarik tangannya sebentar saat pelayan lewat, lalu memasukkan lagi. Kali ini dua jari. Ia menggoyang pelan di bawah meja sambil makan ayam bakar dengan tangan kirinya.

Wulan orgasme kecil di kursi warung itu. Tubuhnya menegang, vaginanya mengepal jari Dharma. Ia menutup mulut dengan serbet, berpura-pura batuk. Cairan hangatnya membasahi jari pria itu dan celana dalamnya.

Dharma tersenyum puas. Ia menarik tangan, terang-terangan menjilat jarinya yang basah di depan Wulan. “Manis banget.”

Mereka melanjutkan makan dengan suasana yang semakin panas. Dharma sesekali meremas paha Wulan, mengingatkan bahwa hasratnya belum padam. Wulan makan sambil merasa vagina-nya berdenyut terus, penuh sperma lama dan cairan barunya sendiri.

Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Dharma mengajak Wulan jalan-jalan sebentar di area sekitar yang sepi, dekat sawah dan pinggir sungai kecil. Motor diparkir di bawah pohon. Mereka berdiri di tepi, angin siang menerpa dress Wulan hingga kainnya menempel di tubuh.

Dharma memeluk Wulan dari belakang. Tubuh kekarnya menempel rapat. Kontolnya yang keras menekan bokong Wulan.

“Takut ketahuan?” bisik Dharma sambil mencium leher Wulan.

“Iya… tapi aku juga suka,” jawab Wulan jujur, suaranya gemetar.

Dharma memutar tubuh Wulan, menciumnya dalam di tempat terbuka itu. Lidah mereka saling menari rakus. Tangan pria itu meremas payudara Wulan di balik dress, memilin putingnya. Wulan balas memeluk leher Dharma, tubuhnya menempel penuh.

Mereka hampir kehilangan kendali. Tangan Dharma sudah menarik dress Wulan ke atas saat sebuah mobil lewat di kejauhan. Mereka tertawa pelan, napas tersengal.

“Pulang yuk,” kata Dharma. “Di kos nanti aku mau masukin lagi. Kali ini pelan-pelan sambil kamu cerita betapa basahnya memek kamu seharian ini.”

Wulan mengangguk, matanya sudah berkabut gairah. Ia naik ke motor lagi, memeluk Dharma lebih erat dari sebelumnya. Sepanjang perjalanan pulang, ia merasakan kontol pria itu yang keras dan panas menekan pahanya.

Di dalam hatinya, Wulan tahu ia sudah semakin dalam tenggelam. Takut ketahuan, rasa bersalah, semuanya masih ada. Tapi kenikmatan dan perasaan diinginkan oleh Dharma jauh lebih kuat.


Bab 14: Hanya Kenikmatan

Jam menunjukkan pukul 03:07 siang saat mereka kembali ke kamar kontrakan. Pintu baru saja terkunci ketika Dharma langsung menarik Wulan ke dalam pelukannya. Tak ada kata-kata. Hanya napas berat dan tatapan lapar.

Wulan sudah tak melawan lagi. Pikirannya kosong dari segala hal kecuali satu: kontol Dharma di dalam tubuhnya. Rasa bersalah, suaminya, kantor, semuanya lenyap. Yang tersisa hanya denyut panas di antara pahanya dan keinginan untuk diisi, digenjot, dan dikuasai.

Dharma menciumnya ganas. Lidah pria itu menyelusup dalam, menghisap lidah Wulan sambil tangan besarnya meremas bokong wanita itu kuat-kuat di balik dress tipis. Ia menarik dress itu ke atas hingga lepas dalam satu gerakan kasar, melemparnya ke lantai. Wulan kini hanya memakai celana dalam hitam yang sudah basah kuyup di tengah.

“Memek kamu masih penuh sperma aku dari tadi,” erang Dharma di bibir Wulan. Jarinya menyusup ke celana dalam, mengaduk-aduk vagina yang licin. “Basah banget. Kamu ngompol seharian ya?”

Wulan hanya mendesah panjang, kepalanya mendongak. “Iya… dari warung tadi… aku basah terus, Pak… aku mau kontol Bapak lagi…”

Dharma tersenyum puas. Ia mendorong Wulan ke kasur hingga wanita itu terbaring telentang. Celana dalamnya ditarik kasar hingga robek sedikit di pinggir, lalu dilempar. Dharma membuka celana jeansnya, kontol besarnya melompat keluar — sudah keras maksimal, urat-urat menonjol, kepala mengkilap precum.

Tanpa pemanasan lama, Dharma menekuk kedua kaki Wulan ke dada, membuka vaginanya lebar-lebar. Ia menempelkan kepala kontolnya di lubang yang berkedut, lalu menghunjam masuk dengan satu dorongan kuat hingga pangkal.

“Aaahhh!!” jerit Wulan panjang. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar. Rasa penuh yang kasar dan nikmat membuat punggungnya melengkung tinggi.

Dharma langsung mengenjot dengan ritme ganas. Setiap dorongan keras dan dalam. Bunyi “plok! plok! plok!” basah dan keras memenuhi kamar kecil itu. Kasur sempit berderit hebat. Tubuh kekar Dharma bergerak naik-turun, otot-ototnya menegang, keringat mulai menetes ke tubuh putih Wulan.

“Enak, Wulan? Kontol aku enak nggak di memek kamu?” tanya Dharma sambil terus menghunjam.

“Enak… ahh… enak banget, Pak… genjot aku… keras… aaahh!” Wulan sudah tak punya kendali. Kedua tangannya mencengkeram sprei, payudaranya bergoyang-goyang liar mengikuti setiap hantaman.

Dharma semakin liar. Ia menindih lebih dalam, hampir melipat tubuh Wulan menjadi dua. Kontol tebalnya keluar-masuk dengan cepat, mengeluarkan bunyi kecipak cairan yang mesum. Setiap kali pangkal kontolnya menghantam bibir vagina Wulan, clit wanita itu tergesek, membuatnya semakin gila.

Wulan orgasme pertama dalam hitungan menit. Tubuhnya mengejang hebat, vaginanya mengepal kuat menggenggam kontol Dharma. Cairannya menyembur kecil, membasahi perut pria itu. Tapi Dharma tak berhenti. Ia terus mengenjot melalui orgasme itu, membuat kenikmatan Wulan berkepanjangan hingga wanita itu menjerit tak karuan.

“Pak… aku mati… ahh… terlalu enak…” racau Wulan.

Dharma menarik keluar, membalik tubuh Wulan dengan mudah seperti boneka. Kini Wulan berada di posisi doggy, bokong bulatnya terangkat tinggi. Tanpa ampun, Dharma menghunjam masuk lagi dari belakang hingga pangkal dalam satu hantaman.

“Uhhgg!!” Wulan menjerit ke bantal. Posisi ini terasa lebih dalam, lebih kasar. Dharma memegang pinggul Wulan kuat, menariknya ke belakang setiap kali mendorong maju. Ritme semakin cepat dan brutal. Bunyi “plak! plak! plak!” benturan bokong Wulan ke pangkal paha Dharma terdengar keras.

Tangan Dharma meraih rambut hitam Wulan, menariknya pelan hingga punggung wanita itu melengkung indah. Tangan satunya meremas payudara Wulan dari bawah, memilin putingnya kasar.

“Kamu milik aku,” erang Dharma. “Bilang! Kamu milik siapa?”

“Milik Bapak… ahh… memek aku milik kontol Bapak… genjot terus… jangan berhenti…” jawab Wulan dengan suara putus-putus. Air matanya keluar karena kenikmatan yang terlalu kuat.

Dharma melepaskan rambut Wulan dan memegang kedua pinggulnya. Ia mengenjot seperti mesin. Cepat, keras, dan dalam. Kontolnya keluar-masuk tanpa henti, membawa cairan putih kental keluar dari vagina Wulan setiap kali mundur. Bokong Wulan memerah karena hantaman berulang.

Wulan orgasme lagi. Kali ini lebih hebat. Tubuhnya ambruk ke depan, hanya bokongnya yang masih terangkat tinggi ditahan tangan Dharma. Vaginanya mengejang hebat, squirting kecil menyembur ke paha Dharma.

Tapi Dharma masih belum puas.

Ia menarik Wulan ke posisi menyamping, mengangkat satu kaki wanita itu tinggi. Posisi side fuck yang memungkinkannya menghunjam dalam sambil tetap bisa meremas payudara dan mencium leher Wulan. Gerakannya tetap kuat, kontolnya menggesek dinding vagina dengan sempurna.

Wulan sudah lemas. Tubuhnya hanya bisa gemetar dan mendesah. Pikirannya benar-benar kosong. Hanya ada sensasi kontol Dharma yang besar dan panas yang terus mengisi, menggesek, dan menghantam titik paling sensitifnya.

“Pak… aku nggak kuat lagi… ahh… tapi enak… enak sekali…” erangnya lemah.

Dharma mencium lehernya sambil terus memompa. “Tahan sebentar lagi, Sayang. Aku mau keluar di dalam lagi.”

Ia mempercepat gerakan. Kamar kecil itu penuh suara desahan, erangan berat, bunyi benturan daging, dan kasur yang berderit. Keringat mereka bercampur. Aroma seks semakin pekat.

Akhirnya, dengan erangan panjang yang dalam, Dharma menyemburkan sperma panasnya untuk kesekian kalinya hari itu. Jet demi jet tebal menyembur jauh ke dalam rahim Wulan. Ia menekan kontolnya dalam-dalam, memastikan setiap tetes masuk.

Wulan orgasme terakhirnya yang lemah. Tubuhnya kejang pelan, vaginanya memijat kontol Dharma yang sedang meledak.

Mereka ambruk bersama. Dharma masih di dalam Wulan, memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Wulan terkapar lemas total. Napasnya tersengal-sengal, mata setengah terpejam, air liur sedikit menetes di sudut bibir. Tubuhnya gemetar kecil sisa kenikmatan. Vaginanya berdenyut pelan di sekitar kontol Dharma yang masih setengah keras, sperma tebal meluber keluar perlahan setiap kali pria itu bergerak.

Dharma mencium bahu Wulan lembut, tangannya mengusap payudara wanita itu dengan penuh kasih meski nafsunya masih menyala.

“Kamu luar biasa,” bisiknya parau. “Sekarang istirahat dulu. Nanti malam kita lanjut lagi.”

Wulan hanya bisa mengangguk lemah. Suaranya hampir hilang. “Iya… Pak… aku… milik Bapak…”

Di pikirannya yang kabur, hanya ada satu hal yang jelas: ia sudah benar-benar kecanduan. Kenikmatan ini terlalu besar untuk dilepaskan. Apa pun risikonya.


Bab 15: Cairan Panas di Tenggorokan

Jam menunjukkan pukul 08:10 malam. Kamar kontrakan kecil itu sudah gelap, hanya diterangi lampu meja kecil yang kuning temaram. Mereka baru saja selesai makan malam sederhana — nasi bungkus dan ayam goreng yang dibeli Dharma tadi sore. Wulan duduk di tepi kasur dengan mengenakan dress tipisnya lagi, rambut hitamnya masih acak-acakan setelah seharian penuh kenikmatan. Tubuhnya terasa pegal di mana-mana, terutama pinggul dan vaginanya yang masih bengkak dan lengket.

Wulan menatap ponselnya dengan gelisah. “Pak, aku harus pulang sekarang. Sudah malam. Suamiku pasti sudah tanya-tanya.”

Dharma yang masih bertelanjang dada duduk di belakangnya. Tangan besarnya memeluk pinggang Wulan dari belakang, dagunya bertumpu di bahu wanita itu. Kontolnya yang setengah tegang menekan punggung bawah Wulan.

“Sebentar lagi,” bisik Dharma dengan suara berat. “Sebelum pulang, aku mau sesuatu dulu.”

Wulan menoleh. “Apa?”

Dharma berdiri di depan Wulan, kontolnya sudah mulai mengeras lagi, berdiri tegak di depan wajah wanita itu. Batang tebal yang sudah membasahi Wulan seharian itu masih berbau seks mereka.

“Aku mau kamu hisap lagi. Kali ini sampai aku keluar di mulut kamu.”

Wulan menelan ludah. Pipinya memerah. Meski sudah melakukannya pagi tadi, ia masih merasa malu. “Pak… aku belum terlalu pandai. Dan… kalau keluar di mulut?”

Dharma mengusap rambut Wulan lembut, lalu memegang dagunya dengan penuh kendali. “Kamu bisa. Aku mau lihat bibir cantik kamu penuh sama kontol aku. Hisap ya, Sayang. Buat aku senang sebelum kamu pulang ke suami.”

Kata “suami” itu justru membuat Wulan merinding aneh. Ada rasa bersalah yang menyengat, tapi juga getaran hasrat terlarang yang semakin kuat. Ia mengangguk pelan, lalu duduk lebih tegak di tepi kasur.

Wulan memegang pangkal kontol Dharma dengan kedua tangan. Ia mencium ujungnya dulu, lalu menjulurkan lidah, menjilat lubang kecil di kepala kontol yang sudah mengeluarkan precum. Rasanya asin dan maskulin. Ia membuka mulutnya, memasukkan kepala kontol yang besar itu ke dalam rongga hangatnya.

“Mmmhh…” Dharma mendesah berat. Tangan besarnya memegang kepala Wulan, tapi tidak memaksa. “Bagus… pelan dulu. Hisap… iya seperti itu.”

Wulan mulai bergerak. Kepalanya naik-turun, mulutnya menghisap pelan sambil lidahnya menjilat bagian bawah batang yang penuh urat. Suara kecupan basah dan erangan rendah Dharma memenuhi kamar. Air liurnya menetes deras di sepanjang kontol pria itu, membuatnya semakin licin dan mengkilap.

Semakin lama, Wulan semakin berani. Ia mencoba memasukkan lebih dalam, meski kontol Dharma terlalu besar untuk masuk seluruhnya. Pipinya kempis setiap kali menghisap kuat. Sesekali ia melepaskan kontol itu untuk menjilat seluruh batang dari bawah hingga atas, lalu kembali menyedot kepalanya dengan rakus.

“Enak sekali, Wulan… mulut kamu panas banget,” puji Dharma sambil mendesah. Pinggulnya bergerak pelan maju mundur, membantu ritme Wulan. Tangan pria itu sesekali menarik rambut Wulan agar melihat wajah wanita itu yang penuh kontolnya.

Lebih dari setengah jam berlalu. Leher Wulan mulai pegal, rahangnya terasa kaku, tapi ia terus berusaha. Air liurnya sudah basah hingga ke bola kontol Dharma. Sesekali ia tersedak saat kepala kontol menyentuh tenggorokannya, tapi justru itu membuat Dharma semakin bergairah.

“Aku mau keluar, Wulan,” erang Dharma dengan suara parau. “Jangan lepas. Telan sebisa kamu.”

Wulan mengangguk kecil tanpa melepaskan kontol. Ia menghisap lebih kuat, kepalanya bergerak lebih cepat. Tangan kanannya mengocok pangkal kontol yang tak muat masuk ke mulutnya.

Dharma mendesah panjang. Tubuhnya menegang. Dengan erangan berat yang dalam, ia meledak di dalam mulut Wulan.

Jet pertama sperma panas dan tebal langsung menyembur ke tenggorokan Wulan. Wanita itu tersentak, matanya melebar. Rasa asin, pahit, dan kental memenuhi mulutnya. Ia hampir menarik mundur, tapi Dharma memegang kepalanya pelan, menahan kontolnya tetap di dalam.

“Telan… telan ya, Sayang…” bisik Dharma sambil masih menyembur.

Wulan berusaha menelan. Beberapa jet masuk ke kerongkongannya, sisanya memenuhi mulut hingga penuh. Sperma tebal menetes di sudut bibirnya. Ia tersedak kecil, air matanya keluar, tapi ia tetap mencoba menelan sebanyak yang ia bisa.

Dharma akhirnya menarik kontolnya keluar. Sperma putih kental masih menetes dari ujungnya ke bibir Wulan. Wulan batuk pelan, napasnya tersengal, mulutnya penuh sisa cairan pria itu. Beberapa tetes menetes ke payudaranya yang terbuka.

Dharma tersenyum puas. Ia mengusap bibir Wulan dengan ibu jarinya, lalu menarik wanita itu berdiri dan menciumnya dalam-dalam. Lidahnya menjilat sisa sperma di mulut Wulan, seolah tak masalah membagi cairannya sendiri.

“Berani sekali kamu,” puji Dharma di sela ciuman. “Kamu semakin nakal.”

Wulan hanya bisa tersipu malu, tubuhnya lemas. Rasa sperma Dharma masih menempel di lidahnya.

Setelah membersihkan diri sebentar, Dharma mengantar Wulan ke depan pom bensin dekat kosannya menggunakan motor. Di sana Wulan turun, helm dilepas. Mereka bertatapan sebentar di bawah lampu neon pom bensin.

“Hati-hati di jalan,” kata Dharma pelan. “Besok kita ketemu lagi ya.”

Wulan mengangguk. Ia menyetir mobilnya pulang dengan perasaan campur aduk. Vaginanya masih berdenyut, mulutnya masih terasa aneh. Sampai di apartemen pukul 09:15 malam, Andi sudah pulang dan bertanya kenapa lama. Wulan berbohong dengan lancar — katanya menginap di tempat Meita karena ada urusan wanita.

Sementara itu, di kamar kontrakan, Dharma duduk di depan laptop tuanya. Ia membuka folder tersembunyi. Video rekaman tersembunyi yang ia pasang diam-diam di sudut kamar sejak kemarin malam menyala.

Video Wulan sedang orgasme hebat, menjerit nama Dharma, vagina yang basah kuyup sedang dihantam kontolnya, mulut Wulan yang penuh kontolnya pagi tadi, semuanya terekam jelas.

Dharma tersenyum kecil sambil mengocok kontolnya yang mulai keras lagi. Matanya tak lepas dari layar.

“Wulan… kamu sudah benar-benar milik aku,” gumamnya sendiri.


Bab 16: Minggu yang Membuatnya Melayang (Revisi)

Sudah satu minggu berlalu sejak malam pertama Wulan benar-benar menyerahkan diri. Satu minggu yang mengubah segalanya.

Hubungan mereka tak lagi hanya soal hasrat fisik yang meledak-ledak. Dharma mulai memborbardir Wulan dengan perhatian yang dalam, halus, dan terus-menerus. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari Andi.

Setiap pagi, pesan Dharma sudah menunggu di ponsel Wulan sebelum ia bangun.

Dharma: Pagi, cantik. Semalam aku mimpi peluk kamu erat sampai pagi. Semoga harimu ringan. Aku nunggu senyum kamu di kantor.

Wulan sering tersenyum sendiri di ranjang sambil membaca pesan itu. Andi yang tidur di sebelahnya tak pernah tahu. Ia membalas dengan cepat, jarinya menari di layar dengan perasaan hangat yang aneh.

Di kantor, mereka tak berani banyak bersentuhan. Tapi tatapan mereka sudah cukup. Setiap kali Wulan lewat pos satpam, Dharma akan menatapnya dengan cara yang membuat lututnya lemas — tatapan penuh rasa memiliki, kagum, dan keinginan yang tertahan. Hanya senyum kecil, anggukan kepala, atau sapaan sopan di depan orang lain. Tapi di balik itu semua, ada arus listrik yang kuat.

Suatu sore di ruang pantry yang sepi, Dharma sengaja masuk setelah Wulan. Mereka hanya berdiri berdekatan di depan mesin kopi. Tangan mereka bersentuhan saat mengambil gelas. Dharma menahan jari Wulan sebentar, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari yang kasar.

“Aku kangen suara kamu yang pelan saat bisik di telinga aku,” kata Dharma sangat pelan, hampir tak terdengar. “Kangen lihat mata kamu yang malu-malu.”

Wulan merasa pipinya panas. Ia tak berani menjawab, hanya menggigit bibir dan tersenyum kecil. Tapi sepanjang sore itu, hatinya melayang.

Chat mereka semakin panjang dan intim. Bukan hanya soal nafsu, tapi juga perasaan.

Dharma: Kadang aku iri sama suami kamu. Tiap malam dia bisa tidur di sebelah kamu. Aku cuma bisa bayangin peluk kamu dari jauh. Tapi aku sabar, Wulan. Aku mau kamu bahagia dulu baru mikir yang lain.

Wulan: Kamu bikin aku bingung, Pak. Aku merasa bersalah… tapi setiap kali dapat pesan dari kamu, aku senyum sendiri. Ini bahaya sekali.

Dharma: Kalau bahaya sama aku, kamu mau nggak?

Wulan tak langsung membalas. Ia duduk di balkon apartemen malam itu, memeluk lututnya sambil menatap lampu kota. Andi lagi tidur di dalam. Suaminya semakin sibuk, semakin jauh. Sementara Dharma… pria itu membuatnya merasa dilihat, diinginkan, dan dihargai sebagai wanita.

Meita sempat curiga melihat perubahan sahabatnya.

“Lan, kamu lagi ada masalah sama Andi ya?” tanya Meita suatu siang di meja kerja. “Kayaknya kamu… beda. Lebih cerah, tapi kayak ada yang disembunyiin.”

Wulan tertawa kecil, menggeleng. “Nggak apa-apa, Mit. Cuma lagi banyak pikiran aja.”

Malam-malam, saat Andi sudah tidur, Wulan sering chat lama dengan Dharma. Mereka bicara tentang masa kecil, mimpi, keluhan pekerjaan, bahkan ketakutan masing-masing. Dharma bercerita tentang anak remajanya yang mulai sulit diatur dan istrinya yang semakin sibuk dengan urusan keluarga. Wulan menceritakan kesepiannya yang selama ini ia pendam.

Dharma: Aku nggak janji bisa kasih dunia, Wulan. Tapi aku janji setiap hari aku bakal usaha bikin kamu merasa spesial. Karena buat aku, kamu memang spesial.

Pesan itu membuat dada Wulan sesak. Ia menangis pelan di balkon tanpa suara. Bukan karena sedih, tapi karena merasa disentuh di tempat yang paling dalam.

Seminggu ini, Wulan merasa seperti sedang jatuh dari tebing. Ia tahu dasarnya keras, tahu ini salah, tahu risikonya besar. Tapi tangan Dharma terasa begitu hangat, suaranya begitu menenangkan, perhatiannya begitu tulus.

Ia mulai merindukan pria itu bukan hanya saat ingin disentuh, tapi juga saat ingin didengar.

Suatu malam, Dharma mengirim voice note. Suara beratnya yang pelan terdengar sangat jelas di telinga Wulan yang memakai earphone.

“Wulan… aku tahu kita sama-sama sudah punya ikatan. Tapi tiap kali lihat kamu, aku merasa hidup lagi. Kamu nggak cuma bikin aku gairah. Kamu bikin aku mau jadi lebih baik. Aku cuma mau kamu tahu itu.”

Wulan mendengarkan voice note itu berulang-ulang. Air matanya jatuh lagi. Ia sudah terlalu dalam. Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi berusaha keluar dari lubang itu.


Bab 17: Godaan di Ruang Satpam

Jumat siang itu, kantor terasa lebih pengap dari biasanya. Wulan duduk di kubikelnya sambil mengipas leher dengan tangan. Blus putih tipisnya sedikit menempel di kulit karena keringat, rok pensil hitamnya menonjolkan lekuk pinggul dan paha. Ponselnya bergetar.

Dharma: Siang ini aku bergairah banget mikirin kamu. Ruang satpam jam 7 malam. Aku tunggu.

Wulan menatap pesan itu lama. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia tahu ini sangat berisiko. Kantor masih ramai, dan ruang satpam berada di lantai dasar. Tapi pesan itu membuat vaginanya berdenyut pelan. Sudah seminggu ia kecanduan sentuhan Dharma. Rasa bersalah masih ada, tapi hasratnya jauh lebih kuat.

Wulan: Kamu gila. Nanti ketahuan orang.

Dharma: Kantor sepi jam 7. Aku kangen masuk ke dalam kamu. Basah belum memeknya?

Wulan menggigit bibir. Ia merasakan celana dalamnya mulai lembap. Akhirnya ia membalas singkat: Oke.

Sepanjang sore, Wulan pura-pura sibuk. Ia bilang ke Meita dan timnya bahwa ia akan lembur menyelesaikan laporan. Jam demi jam berlalu dengan lambat. Pikirannya terus melayang ke Dharma — tubuh kekarnya, kontol besar yang selalu memenuhinya, dan cara pria itu menguasainya.

Pukul 7 malam, kantor sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa lampu yang masih menyala. Wulan berjalan menuju ruang satpam dengan jantung berdegup kencang. Pintu ruangan sedikit terbuka. Ia masuk cepat.

Dharma langsung mengunci pintu. Pria itu sudah menunggu dengan seragam satpam yang rapi, tapi matanya gelap penuh nafsu. Tanpa kata, ia menarik Wulan ke dalam pelukannya dan menciumnya ganas.

Ciuman itu langsung basah dan dalam. Lidah Dharma menyelusup masuk, menghisap lidah Wulan dengan rakus. Tangan besarnya meremas bokong Wulan melalui rok, menarik tubuh wanita itu rapat ke tubuhnya yang tegap. Wulan mendesah di dalam mulut pria itu, tangannya mencengkeram bahu Dharma.

“Pak… di sini bahaya sekali…” bisik Wulan saat mereka melepaskan ciuman sebentar.

Dharma tidak menjawab. Ia mendorong Wulan mundur ke meja, mengangkat roknya hingga pinggang. Tangan kasarnya langsung menyusup ke celana dalam Wulan, merasakan betapa basahnya di sana.

“Sudah basah banget,” gumam Dharma parau. Dua jarinya mengusap bibir vagina Wulan, lalu memasukkan satu jari ke dalam. “Kamu nunggu ini sejak siang ya?”

Wulan mengangguk lemah, pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan jari Dharma. “Iya… seharian berdenyut mikirin Bapak…”

Dharma menarik Wulan ke kamar mandi kecil di belakang ruangan. Ruangan itu sempit, hanya cukup untuk dua orang. Ia membalik tubuh Wulan menghadap wastafel, membuat wanita itu membungkuk di depan cermin.

Dengan cepat, Dharma menurunkan rok Wulan hingga mata kaki, lalu menarik celana dalamnya ke bawah. Vagina Wulan yang putih mulus dan sudah basah mengkilap terpampang di depannya.

Dharma berlutut, menjilat dari belakang dengan lidah lebarnya. Ia menjilat bibir vagina, menghisap cairan yang keluar, lalu memutar lidahnya di clit Wulan dengan cepat.

“Ahh… Pak… enak…” desah Wulan. Ia memegang pinggir wastafel kuat, melihat wajahnya sendiri di cermin yang sudah memerah dan penuh kenikmatan.

Dharma semakin rakus. Ia mengisap clit Wulan kuat sambil memasukkan dua jari tebalnya, menggoyang cepat mengarah ke titik G. Bunyi kecipak basah terdengar jelas di kamar mandi sempit itu.

Wulan orgasme dengan cepat. Tubuhnya mengejang hebat, vaginanya mengepal jari Dharma. Ia menutup mulutnya sendiri agar tak menjerit terlalu keras. Cairannya menyembur kecil ke mulut Dharma.

Belum sempat Wulan pulih, Dharma sudah berdiri. Ia membuka resleting celananya. Kontol besarnya yang sudah keras tegak melompat keluar. Tanpa aba-aba, ia memegang pinggul Wulan dan menghunjam masuk dari belakang hingga pangkal dalam satu dorongan kuat.

“Aaahhh!!” Wulan menjerit pelan. Rasa penuh yang mendadak membuat lututnya lemas.

Dharma langsung mengenjot dengan ritme kuat. Setiap dorongan menghantam dalam, kontol tebalnya menggesek dinding vagina Wulan yang sensitif. Tangan kirinya meremas payudara Wulan dari belakang, tangan kanannya memegang pinggul sambil sesekali menepuk bokongnya.

“Plok! Plok! Plok!”

“Enak, Wulan?” erang Dharma sambil terus memompa. “Memek kamu nyedot kontol aku banget.”

“Enak… ahh… lebih keras, Pak… genjot aku…” Wulan sudah tak peduli lagi. Ia mendorong bokongnya ke belakang, menyambut setiap hunjaman.

Mereka bercinta cukup lama di kamar mandi sempit itu. Dharma berganti ritme — kadang cepat dan kasar, kadang pelan tapi sangat dalam. Ia menarik rambut Wulan hingga punggung wanita itu melengkung, lalu mencium lehernya sambil terus menghunjam.

Wulan orgasme kedua dengan hebat. Tubuhnya gemetar, vaginanya mengejang kuat menggenggam kontol Dharma. Tak lama kemudian, Dharma juga mencapai puncak. Dengan erangan berat, ia menyemburkan sperma panasnya jauh ke dalam rahim Wulan. Jet demi jet tebal memenuhi wanita itu hingga meluber keluar di sekitar kontolnya.

Mereka terengah-engah saling berpelukan. Dharma masih tertanam di dalam Wulan, tangannya mengusap pinggul wanita itu lembut.

“Pulanglah dulu,” bisik Dharma di telinga Wulan. “Besok kita lanjut lagi.”

Wulan mengangguk lemah. Kakinya gemetar saat membersihkan diri. Sperma Dharma masih menetes di pahanya saat ia berjalan ke mobil.

Di perjalanan pulang, Wulan tersenyum kecil sambil merasakan denyut hangat di vaginanya. Ia sudah terlalu dalam. Dan ia tak ingin berhenti.